محمد اندرا أندارون

Your description goes here

  • RSS
  • Delicious
  • Facebook
  • Twitter

Popular Posts

Hello world!
Righteous Kill
Quisque sed felis

About Me

Popular Posts

Thumbnail Recent Post

Righteous Kill

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Quisque sed felis

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Etiam augue pede, molestie eget.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Hellgate is back

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit ...

Post with links

This is the web2feel wordpress theme demo site. You have come here from our home page. Explore the Theme preview and inorder to RETURN to the web2feel home page CLICK ...

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Kisah Motivasi: Orang Bodoh Dengan Uang Rp. 500Ketika seorang pengusaha sedang memotong rambutnya pada tukang cukur yang berdomisili tak jauh dari kantornya, mereka melihat ada seorang anak kecil berlari-lari dan melompat-lompat di depan mereka.
Tukang cukur berkata, “Itu Bejo, dia anak paling bodoh di dunia” “Apa iya?” jawab pengusaha
Lalu tukang cukur memanggil si Bejo, ia lalu merogoh kantongnya dan
mengeluarkan lembaran uang Rp. 1000 dan Rp. 500, lalu menyuruh Bejo memilih,”Bejo, kamu boleh pilih & ambil salah satu uang ini, terserah kamu mau pilih yang mana, ayo nih!” Bejo melihat ke tangan Tukang cukur dimana ada uang Rp. 1000 dan Rp. 500, lalu dengan cepat tangannya bergerak mengambil uang Rp. 500.
Tukang cukur dengan perasaan benar dan menang lalu berbalik kepada sang pengusaha dan berkata,”Benar kan yang saya katakan tadi, Bejo itu memang anak terbodoh yang pernah saya temui. Sudah tak terhitung berapa kali saya lakukan tes seperti itu tadi dan ia selalu mengambil uang logam yang nilainya paling kecil.” Setelah sang pengusaha selesai memotong rambutnya, di tengah perjalanan
pulang dia bertemu dengan Bejo. Karena merasa penasaran dengan apa yang dia lihat sebelumnya, dia pun memanggil Bejo lalu bertanya, “Bejo, tadi saya melihat sewaktu tukang cukur menawarkan uang lembaran Rp. 1000 dan Rp. 500, saya lihat kok yang kamu ambil uang yang Rp. 500, kenapa tak ambil yang Rp. 1000, nilainya kan lebih besar 2 kali lipat dari yang Rp. 500?”
Bejo pun berkata,”Saya tidak akan dapat lagi Rp. 500 setiap hari, karena tukang cukur itu selalu penasaran kenapa saya tidak ambil yang seribu. Kalau saya ambil yang Rp. 1000, berarti permainannya akan selesai…”
=====
HIKMAH
=====
Banyak orang yang merasa lebih pintar dibandingkan orang lain, sehingga mereka sering menganggap remeh orang lain. Ukuran kepintaran seseorang hanya Allah yang mengetahuinya. Alangkah bijaksananya kita jika tidak menganggap diri sendiri lebih pintar dari orang lain.
bedanya orang sukses dengan orang kurang sukses adalah, orang sukses berfikir untuk hari ini dan esok, orang kurang sukses berfikir hanya untuk hari ini.
Mudah2an bermanfaat… ^_^
_________________________________________________
Jika menurut kalian, artikel ini bermanfaat.
Silahkan di-share untuk teman Anda, sahabat Anda, keluarga Anda, atau bahkan orang yang tidak Anda kenal sekalipun.
semoga Anda juga mendapatkan balasan pahala yang berlimpah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
“Barangsiapa yg memberi petunjuk atas kebaikan, maka baginya adalah pahala seperti orang yg melakukan kebaikan itu.” (HR Muslim)
Aamiin Ya rabbal ‘alamiin

Kisah Mengharukan
Bapak Tua Penjual Amplop Itu...



Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop. Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran bapak tua itu.

Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat bapak tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu bapak itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri bapak tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkusa plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi bapak tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

Bapak itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.

Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Bapak itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Bapak cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si bapak tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, bapak tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.

Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat bapak tua itu untuk membeli makan siang. Si bapak tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini: “bapak-bapak tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.

Si bapak tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

Dalam pandangan saya bapak tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si bapak tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.

Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si bapak tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si bapak tua.

Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si bapak tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.


Garam Mogok Asin
Aku garam. Bentukku macam-macam. Kebanyakan sudah halus dan siap tabur. Tapi di kampung-kampung, masih ada juga yang menggunakanku dalam bentuk kotak-kotak batangan. Mesti ditumbuk sebelum dicampur dalam masakan agar cepat larut.
Rasaku? Jangan ditanya lagi. Keasinanku sudah terkenal dari masa ke masa. Ada yang sangat asin, asin dan cukup asin. Maka kau bisa menaburkanku sesuai dengan kadarnya.
Tanpaku masakan jadi terasa hambar dan tak nikmat. Coba saja kalo tak percaya. Tapi jangan coba-coba mencicipinya begitu saja dalam jumlah banyak. Lidahmu akan kelu keasinan.
Sebalnya, manusia tak menghargaiku! Berapa coba harga garam? Dengan lima ratus rupiah, manusia bisa mendapatkan sekantong garam. Padahal fungsiku tak sebanding dengan harga belinya. Seenaknya saja mereka meremehkanku. Mentang-mentang aku ada dalam jumlah banyak.
Aku memutuskan memulai aksi protes ini dengan mengirimkan sms berantai ke kawanan garam di sebuah kampung.
“Prens, sudah saatnya kita menyuarakan hak kita. Keadilan harus ditegakkan. Jangan mau dihargai semurah ini sementara manusia begitu rakus memanfaatkan kita. Mari bersama kita melakukan gerakan aksi anti asin. Setiap kita yang dicampur dalam masakan, jangan keluarkan rasa asin itu!”
Aku tersenyum puas. Smsku terkirim sempurna ke aneka ragam dan rupa garam di kampung ini. Rasakan pembalasan kami wahai manusia!
“Tadi saya masak sayur pake lima sendok garam, kok enggak asin ya?” seorang ibu curhat pada tetangganya di forum arisan.
“Jangankan lima sendok. Saya pake lima bungkus saja tidak asin,” Ibu lain menyeletuk bingung.
“Suami saya mengira saya enggak pake garam. Sampe ngasih uang belanja tambahan untuk beli garam,” Ibu muda yang punya anak balita ikut nyambung.
“Sayur saya juga hambar. Saya sampe beli garam di kampung sebelah. Tapi setelah masuk kampung kita, asinnya hilang. Padahal saya udah bela-belain nyicip itu garam di warung kampung sebelah,” Ibu yang gemuk ikut berkomentar.
Aku mneyeringai penuh kemenangan. Rasakan kau!
Aksi yang kumobilisasi ini akhirnya terdengar juga hingga garam-garam di kampung lain, hingga sampai pada tambak-tambak pembuatan garam dan bergaung di lautan. Bangga jadinya. Ada yang mendukung, ada yang acuh, ada yang mencemooh. Biarin, bukankah perubahan selalu dimulai dengan penolakan?
Laut akhirnyamengirimsms padanku, menanyakan sebab musabab boikot kami. Bagaimanapun juga ia berperan melahirkanku menjadi garam.
“Kita gak dihargai sebagaimana mestinya. Makanya kita protes,”
“Emang kamu mau minta dihargai berapa?”
“Yah, jangan lima ratus rupiah lah,”
“Kan kalo beli garam satu truk harganya bukan limaratus rupiah,”
Aku mendengus marah.
“Enakan punya nilai diri daripada harga diri?”
“Maksudnya?” aku bertanya.
“Jangnlah kita peduli berapa kita dihargai orang. Bagaimana kita dinilai orang. Asalkan kita tetap memberikan manfaat bagi mereka. Itulah nilai diri,”
“Bagaimana bisa?” aku protes.
“Kita tak butuh penghargaan. Bermanfaat saja sudah membahagiakan hati. Asal kita lapang dan ikhlas melakukannya,”
Aku termenung sesaat. Teman-teman garam lain juga ikut berpikir.
“Jadilah garam yang dicari karena manfaatnya meskipun kau terlihat sepele dan remeh. Bagaimanapun mereka membutuhkanmu. Bukankah tujuan kehidupan kita adalah bermanfaat bagi yang lain?”
Aku jadi malu dengan ucapan laut. Ia memang selalu luas dan lapang hatinya. Ia selalu menerima segala sesuatu yang dikirim sungai tanpa protes. Mau air, mau sampah, mau limbah, mau mayat. Ia terima dengan terbuka. Ia kembalikan pada pesisir pantai pada waktunya.
Andai aku bisa selapang laut dengan kedalaman keikhlasannya, tentulah tak jadi soal bagaimana manusia menghargaiku. Bermanfaat bagi mereka menjadi nilai pribadiku semestinya.
“Alhamdulillah, garam saya sudah asin lho,”
“Iya, masakan saya kembali nikmat. Suami dan anak-anak tak lagi protes,”
“Garam benar-benar bermanfaat ya,”
Saya tersenyum bahagia mendengarnya. Kami mengakhiri mogok kami usai berdialog dengan laut kemarin sore.
Sekarang, saatnya aku berkorban. Sebuah wajan panas dengan tumisan kangkung memanggilku mesra. I’m coming!


“Setiap orang berhak bahagia”.
Itu kata-kata yang sering aku dengar dari mulut orang-orang.
Dan aku fikir itu adalah perkataan yang benar.
Karena aku pernah merasakan kebahagiaan itu.
Dulu, aku adalah orang yang bahagia.
Aku punya keluarga yang peduli samaku, punya banyak teman yang sayang samaku, dan aku juga punya pacar yang cinta samaku.
Dan menurut aku, kelengkapan inilah yang dinamakan sebuah kebahagiaan.
Tapi, sebuah kejadian mengingatkanku dengan lagu Peterpan – Tak Ada Yang Abadi.
Karena memang tidak ada yang abadi didunia ini.
Termasuk kebahagiaan.
Selalu ada cara tersendiri dari Tuhan untuk mencabut nikmat kebahagiaan itu.
Dan aku, juga merasakannya.
Sebuah keputusan yang aku lakukan tanpa berfikir panjang, membuatku kehilangan semuanya.
Aku adalah seorang laki-laki yang bekerja sebagai seorang Karyawan disebuah Perusahaan Swasta.
Sifatku yang suka bergaul dengan teman-temanku, membuat aku jadi sering mentraktir mereka dalam setiap pertemuan.
Mulai dari mentraktir makan, minum, bahkan rokok sekalipun, aku yang traktir.
Sampai suatu hari uang itupun enggan buat masuk kedompetku lagi.
Iya, kapal perekonomianku lagi goyang saat itu.
Akupun jadi bingung, “Bagaimana bisa aku berkumpul dengan teman-temanku tanpa uang sepeserpun?”.
Sore itu, aku merenung di bawah pohon rindang yang terletak di belakang kantorku.
Aku masih berfikir, “Haruskah aku berkumpul dengan teman-temanku malam ini?”
Aku menunggu, dan terus menunggu.
Menunggu aku menjawab pertanyaanku sendiri.
Sampai Bang Sitompul, seorang yang bekerja sebagai Administrasi di perusahaan ini, datang menghampiriku.
“Kau kenapa Leo?” Tanya dia.
“Biasalah bang, masalah uang.” Jawabku dengan lesu.
Lalu dia datang menghampiriku lebih dekat, dan berbisik “Abang akan membantumu dengan cara yang tidak halal. Kau mau?”.
Aku berfikir, dan berfikir lagi.
Sampai akhirnya, untuk teman-temanku, aku berfikir untuk “mengiyakannya”.
Setelah itu, uang pun mengalir dengan indahnya ke dalam dompetku.
Akupun bisa tertawa lepas saat berkumpul dengan teman-temanku, bisa merasakan kesenangan yang luar biasa saat bertemu dengan pacarku.
Aku berhasil mempertahankan kebahagiaanku.
Sampai suatu hari, polisi datang kerumahku.
“Anda saudara Leo?” Tanya dia.
“Benar pak. Ada apa yah?” Tanyaku sedikit gugup.
“Maaf, ini ada surat perintah penahanan terhadap saudara.” Jelasnya, sambil memperlihatkan sebuah kertas kepadaku.
“Loh! Tapi salah saya apa pak?” Tanyaku benar-benar kaget.
“Nanti bisa saudara jelaskan di kantor polisi.” Jelasnya.
Sesuatu yang benar-benar menyeramkan, tapi ini bukan mimpi.
Tanganku diborgol, kedua orang tuaku menangis, ternyata ini benar-benar kenyataan.
Sesampainya dikantor polisi, aku melihat Bang Sitompul dan segenap pihak Perusahaan ada disana.
Ternyata, aku dan Bang Sitompul tertuduh atas tuduhan Penggelapan Terhadap Perusahaan.
Perasaanku benar-benar hambar, sangat hambar.
Bahkan aku sudah tidak mampu lagi membedakan antara rasa takut dan menyesal.
Semuanya berputar di hati ini, sampai akhirnya polisi menjadikan kami tersangka atas tuduhan yang di lampirkan oleh pihak perusahaan.
Benar-benar sebuah mimpi bagiku bisa tidur di balik jeruji besi ini.
Tapi inilah kenyataan yang harus kuterima.
Aku mendekam dipenjara.
Dua bulan berlalu.
Dan aku yang pada saat itu berusia 19 tahun, dipindahkan ke sebuah Lembaga Permasyarakatan Anak (LPA) untuk mengikuti persidangan.
Sementara Bang Sitompul dipindahkan ke Lembaga Permasyarakatan Dewasa (LPD), dikarenakan usianya yang sudah dewasa.
Setelah beberapa kali mengikuti persidangan, akhirnya Hakim menjatuhi hukuman terhadap kami dengan masa pidana “1 tahun dan 6 bulan”.
Aku terkejut, karena itu merupakan waktu yang lama.
Sementara ibuku yang pada saat itu hadir dipersidangan, pingsan karena mendengarkan masa pidana yang diberikan oleh Hakim itu.
Aku hanya bisa terdiam.
Kecewa terhadap diriku sendiri.
Tapi ini adalah sebuah pelajaran hidup yang harus aku pelajari.
“Apa hikmah dibalik semua ini?”.
1 tahun dan 6 bulan pun berlalu.
Senang, sedih, ketawa, menagis, semua kurasakan di LPA ini.
Dan aku bersyukur, karena ternyata aku mampu melewati masa sulit ini dengan baik.
Sesampainya dirumah, aku langsung memohon maaf kepada kedua orang tuaku.
Aku benar-benar menyesal atas apa yang telah aku perbuat.
Dan berjanji tidak akan pernah mengulanginya lagi.
Saat malam, aku berniat untuk menemui pacarku dirumahnya.
Rasanya kebahagiaan itu benar-benar kembali saat aku keluar dari LPA itu.
Tapi ternyata aku salah.
Aku malah diusir oleh pacarku.
“Lebih baik kamu pulang aja deh. Aku nggak mau pacaran sama mantan Napi! Kita putus!” Jelasnya dengan emosi yang tinggi.
“Tapi…” Aku ingin berusaha menjelaskan semuanya.
“Nggak ada pakai tapi! Pulang kamu sana!” Potongnya sambil mengusirku.
Aku berjalan meninggalkan rumahnya sambil menangis.
“Sehina inikah aku dimata orang-orang?”.
Aku terus menangis, menahan rasa sakit, sampai akhirnya aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi.
Akhirnya aku putuskan untuk minum di sebuah Café, sambil menenangkan diri.
Saat masuk ke pintu Café, aku melihat teman-temanku lagi berkumpul disana.
Karena merasa senang, aku menghampiri mereka.
Aku duduk diantara mereka.
Tapi apa?
Sejak aku duduk disitu, satu per satu dari mereka pergi meninggalkan aku.
Dan akhirnya, hanya tinggal aku sendiri yang duduk disitu.
Sekarang, aku benar-benar merasa hina.
Selesai menghabiskan minumanku, aku putuskan untuk pulang kerumah.
Aku masuk kekamar, dan merebahkan badanku ditempat tidur.
Berharap waktu bisa berputar kembali.
Tapi kenyataannya, hidup terus berjalan maju.
Seberat apapun masalah yang aku hadapi, semua pasti ada hikmahnya.
“Tapi, apa hikmah dibalik semua ini?”.
“Apakah aku harus jadi manusia yang jujur?”.
“Apakah aku tidak boleh terlalu baik sama orang-orang yang aku sayangi?”.
“Apakah aku harus lebih mendekatkan diri kepada Tuhan?”.
Aku tidak bisa menemukan jawabannya.
Mungkin karena aku telah jatuh ke jurang yang terlalu dalam, hingga akhirnya aku tidak mampu lagi memikirkan daratan yang ada diatas sana.
Yang kufikirkan hanyalah “Mampukah aku bertahan hidup sesampainya aku diujung jurang ini?”.
Namun, tidak ada yang menjawabnya.
Karena jawabannya ada diujung jurang itu.


Diantara banyak bintang bertaburan dilangit malam yang sunyi, gue nemuin satu bintang yang paling terang dari yang bersinar. Dia indah, gue seneng mandanginnya, gue seneng liat sinarnya, indahnya bikin gue lupa tentang masalah gue. Mungkin inilah keindahan Allah SWT yang memberikan gue mata yang sempurna agar melihat suatu hal yang indah pula. Walaupun bintang itu milik Allah tapi gue bisa nikmatinnya, bikin gue tenang. Kalian tau ga? Bintang itu indah saat ia bersinar, andai setiap malam gue bisa liat bintang itu bersinar dan menerangi kelamnya malam. Ga semua bintang bisa seindah itu, kadang kalo malem dateng dan gue menengadah buat cari bintang yang bersinar rasanya sulit, dia ga selalu hadir disetiap malam, ga selalu ada buat nerangin malem, dan ini yang ga gue pengen. Gue pengen bintang bisa hadir setiap saat, dan disaat gue butuh dia
Errrr— banyak banget masalah yang gue hadepin belakangan ini, kenapasih gue gabisa dapet ranking terbaik disekolaah? Kenapa sih gue pemales, kalo orang beres-beres gue pasti diem, gue pemales? Kapan gue bias bikin karya indah yang bisa bikin gue bangga dengan hasil itu? Kapan gue bisa banggain orangtua gue dengan pencapaian gue selama ini? Kapaaaaaan? Gue ngerasa hidup gue itu—ga guna, ga rugi orang lain ga liat gue, soalnya gue gabisa apa apaaaa errrrrrr—
“yaaa, kenapa ya gue tuh gabisa bikin orang tua gue bangga. Masa ranking gue turun dan gue sekarang makin lama dirumah tuh makin males. Kayaknya tuh gue ga guna banget–” Tanya gue ke aria yang ada dihadapan gue bersama snack serena kesayangannya.
“hus ga boleh gitu—ranking doang turuuun tapi nila naek kan. Udah kalem ajaaa. Ohiya nay, lu bantuin gue ya buat bikin cerpen—gue gabisa ngerangkai kata-katanih” pinta aria ke gue.
“ih ya, gue gabisa apa apa-__- mana bisa bantuin eluu bikin cerpen coba?” jawab gue bête.
“ih nay lu mah suka aneh, lu kan lebih jago dari gue. Ohiya, nanti lu yang sebarin cerpennya ya, kan lu banyak temen” pinta aria mengelak apa yang gue bilang
“aria ariaaaa—gue mah gabanyak punya temen ah , mening elu aja. Emang cerpen buat apa?” jawab gue lagi sambil mengambil jus alpukat yang baru aja datang ke meja tempat kita berdua duduk di kantin kampus
“tuh kan lu mah suka gitu nay ah bête gue” aria marah
“ya emang iya kan ya, gue gasehebat elu yang punya banyak karya dan pinter. Udah ah gue males mikirin ini itu—gue pusing. Otak gue serasa mau mudaaal. Pulang yu ya” gue mengelak dari apa yang aria omongin, sambil menghabiskan jus alpukan gue berdiri. Otak gue pusing, gue lagi males berhadapan sama masalah.
“…” aria berdiri dari bangkunya dan menyusul gue yang udah berjalan duluan untuk naik bus pulang
Kita berjalan dalam diam menuju halte bus, tiba-tiba aria memecahkan keheningan ini
“nayaka, asal lu tau. Kalo lu terus liat keatas membandingkan diri lu dengan orang lain yang lebih hebat itu cuman bisa bikin lu terpuruk. Lu ga akan bias ngeliat potensi lu sendiri. You have nayaka, admit it”
“tapi yaaa…” gue sedikit cemberut
“tanpa lu sadarin banyak orang disekelilinglu yang lebih gaguna nay, lu liat eza yang kerjaannya kelayapan tiap malem, nilai jeblog, dan ga dipeduliin sama orang tuanya, termasuk gue. Lu masih ngerasa elu orang paling ga guna? No nayaka! you have your own potential you have a good skill to make an article or a story. you have nay jangan pernah berfikir kamu itu sendiri disini, gapunya temenlah, inilah itulah, gue? Ada gue disini nay, gue bakal selalu ada. Lu anggep gue bukan temen? Jangan selalu bayangin yg ga ada tapi manfaatin yang ada nayaka”
Aria.. that’s a best part I ever hear from his mouth—ever. Dia emang bener bener sahabat gue yang paling ngerti apapun tentang gue. Baru gue sadarin, ngapain gue selalu mikirin yang ga ada, ngerasa ga ada temen, jelas jelas aria selalu ada buat gue. Gue ngerasa ciut? Hidup itu bukan untuk menyesali tapi untuk mensyukuri. Liat kebawah untuk merasa kita mampu dan liat keatas supaya kita termotivasi. Itu semua udah gue simpen diotak gue rapetrapet. Petuah dari aria yang bisa bikin hidup gue berubaaaah.
Setelah hari itu, gue mulai menyadari pentingnya waktu dan menghargai teman. Sekarang waktunya gue menerima hasil ujian praktek. Entah apa yang bakal gue dapet. Aria udah lebih awal mendapatkan hasil ujian praktek gitarnya, dengan sempurna ia mendapat 5 bintang dari dosen kita. Gue masih tetep nunggu dengan sabar.
“bosen ya nay?” Tanya aria ke gue yg memasang wajah kecut dan tangan disimpan didagu sambil duduk dikursi taman dekat gedung fakultas kami.
“hmmm.. gue laper abisnya” jawab gue ketus
“dih jutek cuman garagara laper, yaudah ayo makan dulu” tawar aria sembari berdiri dari duduknya
“ah engga ah, gue mau nungguin hasil ujiannnya”
“yaelaaaaaaaa nayaka lu pasti lulus dan dapet hasil terbaik. Percaya deh sama gue”
“gimana caranya gue bisa pegang omongan lu ya?”
“lu pikirin aja sendiri, seberapa besar usaha lu saat melakukan ujian praktek. Itu hasilnya lu bisa ukur sendiri”
“sialan ini orang selalu nyihir gue dengan omongannya” gumam gue
“hehehhe” aria yang mendengar gumaman itu tertawa merasa dirinya disindir.
**
“ARIAAA!!! I’ve got what I want!” suara gue menggema diantara pohon pohon taman kampus gue. Aria duduk dengan iPodnya menunggu gue dikursi taman. Sedikit kaget melihat gue. Dia berlari dan menanyakan kebenaran katakata gue
“beneraaaaan?!!” tanyanya girang
“iya yaaaaaa Aaaaaaaaa seneeeng!!” jawabku lebih heboh darinya
“yeeeeeeeee nay lu berhasiiil asik party asik party” jawabnya sumringah
“hem engga ada party partyan. Gue mau male mini cuman gue sama bintang dilangit yang bersinar yang ngerayain. Besok aje lu gue traktir ya yaaa ;)
“dih si nayaka nyebelin amat-___- kalo udah liat bintang susah banget diganggu”
mata gue terbuka lebar, gue menengadah memandangi langit malam yang bertabur bintang. And I’ve got the best reward! And this is my favorite! See the star. Bintang, gue paling suka bintang—indah, bersinar, terang, dan bikin gue tenang. Setiap gue liat ada satu bintang paling terang dilangit teras kamar gue, gue pastiin itu Aria. Aria sahabat gue, dia sama kaya bintang. Katakatanya bisa bikin gue tersihir setengah duduk buat berubah. Sama halnya dengan bintang yang bisa nyihir gue saat sinarnya sangat benderang dilangit. Bintang ga selalu bersinar setiap saat. Walaupun cuman malam yang bisa bikin gue ketemu sama dia tapi itu berarti bagi gue. Sebentar yang bermakna. Mulai saat ini gue ga akan nyia nyiain hidup gue lagi cuman buat menyesali sesuatu. Gue inget kata kata aria yang dia bilang saat gue lagi bête “belajar lah dari masa lalu, hidup untuk hari ini, dan bermimpi untuk masa depan”
“thanks ya, gue tau seberapa berharga sinar bintang dimata gue, sama halnya dengan elu yang lebih berharga dari itu.”
mata gue terpejam menikmati malam diantara banyak bintang bertaburan dilangit luas, diatas rerumputan halaman


Di sebuah kota besar yang berada di antara benua asia dan Australia,pada pagi hari seperti biasa seorang pekerja serabutan berangkat dengan gesit langsung memenuhi kewajibanya sebagai seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab terhadap keluarganya, ia menuju tempat yang ia pikir bisa memenuhi kebutuhan rumah tangganya.
tak di sangka ada gedung yang akan di bangun di sekitar rumah nya tinggal dia pun langsung berangkat menawarkan jasa kepada orang yang bertugas di sana,
” pak permisi ! apakah saya bisa menawarkan jasa saya disini ?”
” oh ia, tentu saja bisa ! kamu langsung bantu pekerja yang di sebelah utara sana dan pertama – tama siapa nama bapak ?”
” nama saya Ilham pak ! saya kebetulan tinggalnya dekat sini”
” baguslah kalau begituh, yah bapak bisa mulai bekerja !!!”
” ia pak terimakasih pak ”
dengan penuh semangat dia dan pekerja lainnya bekerja dengan penuh keringat dia dan pekerja lainnya berhasil menyelesaikan penyangganya.
hari demi hari minggu demi minggu bulan demi bulan gedung yang di bangun mulai kelihatan walau pun hanya kerangka besi yang menjulangtinggi dan bisa saja sewaktu waktu roboh karna bencan atau angin yang kuat, tapi pak ilham menghiraukan nya karena ia meyakini keluarganya lebih berharga dari pada dirinya sendiri.
Dan suatu saat pak ilham seperti biasa pada sore hari dia akan meminta bayaran atas jasanya, tak di sangka bos yang mempekerjakanya sedang di tegur oleh atasanya.
” pak Budi, apakah bangunan yang di barat sudah ada sketnya ? ”
” hmmm, maaf pak tapi saya belum mendapatkan sketsanya dan arsitek yang membuat sketsanya blim datang dari minggu kemari sedangkan kami sudah emberi tahu nya tentang proyek ini dan lagi kami tidak bisa berkomunikasi dengannya ”
” ini buruk sekali ! apakah bapak tau, kita disini mengejar waktu untuk bangunan ini (dengan suara keras)”
” ia saya tahu tapi saya bisa mengusahakan nya untuk seketsa bangunan yang di barat (dengan perasaan resah gelisah)”
” baiklah tapi besok saya harus melihat sketsanya karena besok lusa saya harus melaporkannya kepada pemilik bangunan ini (dengan tegas)”
” Baiklah pak yasa usahakan !”
” ia saya permisi ”
” ia pak ”
pak ilham tak sengaja menguping pembicaraan kedua atasannya itu, dan langsung menghampiri pak Budi yang sedang pusing bagai mana dia bisa membuat sketsanya.
” permisi maaf pak ”
” ohh kamu, ini upah kamu untuk hari ini (dengan suara resah dan gelisah)”
” ia pak terimakasih pak, tapi pak bukannya saya tidak sopan tapi boleh say tahu bapak kenapa ya ? ”
” saya sedang memikirkan sketsa untuk bangunan di sebelah barat dan lagi tida ada yang membuatnya saya berusaha memikirkan jalan keluarnya ”
” ohh maaf kalau saya mengganggu bapak yang lagi sibuk ”
” oh tidak apa – apa ”
” saya permisi pak saya harus pulang ”
” ia ”
di perjalan pak ilham terbesit ide untuk membantu pak budi untuk membuat sketsanya dengan harapan bisa menambah uang yang sehari – hari di dapatkannya, dia langsung pulang dengan terburu – buru hingga ia lipa untuk melepas sepatunya.
dengan modal izasah SMP dan berbagai pengetahuan tentang menggambar dan dia juga pernah mendapatkan pengghargaan untuk karyanya.
dia langsung menyiapkan peralatan untuk menggambar sketsa yang di harapkannya itu, . . . . . 30 menit telah berlalu kemudian pak ilham dengan terburu – buru kembali ke pak budi untuk menyerahkan sketsa yang dibuatnya brharap mendapatkan upah lagi.
sampailah pak ilham di tempat pak budi berada dan langsung menghampirinya,
” pak permisi, bukannya saya sok tau tapi saya mau bantu bapak dengan gambar ini ( dengan percaya diri yang besar)
” (di lihat lah sketsa dari pak ilham )”
” pak apa ada yang salah dengan gambar saya ?”
” (pak budi tercengang dengan gambar yang dia buat ) ”
” pak . . . bapak budi . . . pak budi ”
” ia (terkesima)! ohh maaf tapi bleh saya ambil ini ?”
” bisa pak, kan tadi juga saya bilang saya mau bantu bapak ”
” terimakasih ya, bapak ilham telah membantu saya (gembira)”
” ia pak, sama – sama pak”
” baiklah, saya akan ke pusat untuk menyesahkan ini, sekali lagi saya mengucapkan terima kasih, saya pamit bapak ilham ”
” ia pak (sedikit kecewa)”
pak ilham pun sedikit kecewa karena dia tidak mendapatkan apa pun, pak ilham pulang dengan keluh kesah karena pemikirannya telah sia – sia.
2 tahun berlalu setelah kejadian itu pakilham masih bekerja di sana, dan alangkah terkejutnya pak ilham, melihat sketsa yang digambarnya tekah berdiri kokoh di sebelah utara sesuai rencana, tapi pada waktu itu dia tidak menyangka desainnya di pakai dan lagi pak ilham tidak tahu ada yag di bangun di sebelah barat kiranya itu adalah proyek setelah gedung ini selesai tapi itu berbeda dari pemikiran pak ilham,
gedung yang di buat pak ilham sudah selesai di buat dan juga sketsa nya pun telah berdiri menjadi sebuah bangunan kokoh dan arsistik.
hari di mana peresmian gedung itu pun datang, tempat itu ramai dengan sekejap memenuhi jalanan sekitar, orang yang memiliki gedubg itu pun datang dengan gagah melihat lihat bangunan yang ada di sekitarnya, dan ia pun sangant terkesan dengan bangunan yang dibuat oleh sketsa pak ilham danlangsug mengatakan kekagumannya ke pak ilham.
” pak ilham, bangunan yang and buat ini sangat lah bagus anda berbakat dalam membuat sketsa bangunan ”
” terimakasih pak, tapi yang membuat sketsa ini bukan saya ”
” lalu siapa ? bukannya waktu itu anda sendiri yang memperlihatkan gambar itu kepada saya ? ”
” orang itu adalah pekerja buruh saya, awal nya saya juga terkejut dengan sketsa yang dia buat dan alangkah senangnya saya telah di bantu olehnya ”
” ohhh, apakah saya bisa bertemu dengan pekerja itu ? ”
” dengan senang hati saya akan panggilkan ”
beberapa saat kemudian…
” pak permisi apakah saya di panggil kesini ?”
” ia benar pak, oh ia silakan duduk !, ini pak ilham ada yang mau bertemu bapak ”
” soal apa ya ? ”
” ini perkenalkan dia adalah yang memiliki gedung ini nama nya pak Rudi, beliau mau berbicara dengan bapak, saya permisi pak (keluarlah pak Budi)”
” ini pak ilham saya terkesan dengan bangunan yang anda buat di sebelah barat, bangunan itu sangan modern sekali ”
” iya pak saya juga tidak menyangka sketsa saya bisa jadi bangunan yang di sana ”
” dan apakah saya bisa di buatkan sketsa untuk saya, untuk bangunan rumah saya ”
” tapi pak …….”
” ohhhh, soal bayaran santai saja ! saya bayar bapak 15 juta untuk 5 sketsa bisa ? ”
” tapi pak …….”
” ohhh saya tambahkan jadi 20 juta ”
” sudah pak itu terlalu banyak !”
” gini aja saya kontrak saja bapak 2 thn ”
” bisa pak saya setuju (dengan sumringah)”
” nah gituh donk ”
” makasiah pak saya sangat berterimakahih sekali pak ”
1 tahun ke mudian pak ilham bepotosintesis menjadi seorang arsitek yang di segani karna rancangannya, tidak di pungkiri pak ilham dalam 1 tahun berhasil menggambar skersa hampir 50 rancangan yang di sebar ke berbagai kota, dan ia pun mendirikan sekolah khusus untuk para arsitek muda dengan harapan ada yang mengikuti jejaknya menjadi arsitek yang sukses.

Teman-temanku bilang aku bodoh. Guruku bilang aku anak yang tak bisa menerima pelajaran dengan cepat. Dan aku juga merasa begitu. Namun, hanya satu yang selalu memberiku semangat ketika aku hampir jatuh, ketika aku hampir putus asa. Ia adalah IBUku.
Bapak telah putus asa mendidikku. Sekarang dia tidak peduli bagaimana nasibku. Kami bukanlah orang yang tak mampu. Kami keluarga yang sangat sederhana, tidak kaya dan juga tidak miskin. Setiap malam ibu selalu menemaniku belajar. Walaupun terkadang dia tidak sabar mengajariku yang sulit menerima penjelasan darinya. Tapi ia tak pernah putus asa. Dia yang mencarikanku sekolah baru setiap aku tidak naik kelas. Aku memang anak yang bodoh. Kerena kebodohanku, aku tidak naik kelas berkali-kali dan aku juga pindah sekolah telah berkali-kali.
Kali ini, Ibu membawaku ke sebuah sekolah kecil di luar kota Surabaya. Aku diterima dengan baik di sana. Kulihat Ibuku berbincang-bincang dengan salah satu guru di sekolah ini. Ibu sangat gigih dan bersemangat untuk menyekolahkanku. Bagaimana bisa aku membalas jasa-jasanya.
“aku harus semangat! Aku harus sukses!” ucapku tegas namun dengan suara lirih. Ibu menghampiriku dengan langkah-langkah cepat. Aku tersenyum padanya dan dia juga tersenyum padaku.
“Dodi, ini sekolah barumu. Mulai besok kamu bisa belajar di sini.” Ucap Ibu sambil menatap kelas-kelas yang berisi siswa-siswi SMP. Aku mengikuti arah pandangannya. Seharusnya aku sudah menjadi anak SMA. Setelah puas menatap anak-anak yang sedang belajar itu, aku kembali beralih pada Ibu. “suka kan?” tanyanya padaku. Aku hanya membalasnya dengan anggukan. “ya udah, kita pulang dulu. Besok Ibu anterin kamu ke sini.” Aku mengekor di belakang Ibuku. Kutatap tubuhnya yang semakin mengecil. Atau karena aku semakin tinggi? Terkadang aku merasa Ibu selalu menganggapku seperti anak kecil. Selalu menemaniku belajar. Walaupun aku tahu, hal itu dilakukannya karena kebodohanku.
***
Keesokan harinya. Ibu membawa semua barang-barangku ke mobil. Aku bingung melihatnya. Namun, aku tak berani bertanya ketika kulihat Bapak menghampiriku dengan tatap tajam. “ngapain kamu masih berdiri di situ? Cepet bantu Ibumu!” bentaknya padaku.
Aku langsung melaksanakan perintah. Kuangkat semua barang-barangku dari kamar. Begitu selesai, aku langsung masuk mobil dengan seragam SMP melekat di tubuhku. “barang-barangku mau dibawa ke mana, Bu?” tanyaku hati-hati. Ibu menoleh dan hanya menjawabnya dengan senyuman.
Kami kembali datang ke sekolah yang kemaren kukunjungi bersama Ibu. Aku baru tahu kalau sekolah itu mempunyai sebuah nama. Taman Madia. Disinilah aku akan sekolah. Sekarang, dan semoga sampai seterusnya.
Aku menoleh menatap Ibu dan Bapak yang kembali sibuk menurunkan barang-barang dari mobil. Aku kembali bingung. Aku mulai khawatir dengan apa yang dilakukan ke dua orangtuaku. Apa mereka telah putus asa mendidikku? Dan mereka ingin aku pergi dari rumah.
Guru yang kemaren sempat berbincang-bincang dengan Ibuku menghampiriku. Dia mengajakku memasuki sebuah deretan kamar yang sepi. “asramanya masih sepi. Soalnya anak-anak banyak yang sekolah.” jelasnya. Kekhawatiranku semakin memenuhi kepalaku. Asrama? Aku sering mendengar kata asrama dari teman-teman sekolahku yang dulu. Mereka bilang tempatnya ramai dan kotor.
“Dodi.” Seketika aku menoleh. “kamu akan tinggal di sini. Sampai kamu lulus SMP.” Jelas Ibuku. Aku menatapnya tak percaya.
“aku nggak boleh pulang?”
“kamu boleh pulang kalau sudah liburan, Dodi.”
“tapi, Bu…”
“nggak ada tapi-tapian. Kamu harus belajar, jangan cuma bisa nyusahin orangtuamu.” Ucap Bapak tegas dan sedikit membentakku. Aku langsung menunduk patuh. Tak lama setelah itu, Bapak dan Ibu meninggalkanku dengan seorang guru yang menatap kepergian orangtuaku.
***
Malam ini aku belajar dengan teman-temanku. Tidak ada lagi Ibu yang menemaniku. Tidak ada lagi suara Ibu yang menjelaskan tentang pelajaran dan PR-PR yang harus kukerjakan. Kulirik semua teman-teman baruku yang sedang serius belajar.
“nilai matematikamu berapa?”
aku menatap anak laki-laki dengan rambut keriting.
“kamu dapet nilai bagus.”ucapnya pada salah satu temannya. “aku dapet nilai jelek.” Katanya lagi dengan wajah murung. Lalu tiba-tiba dia kembali tersenyum. “nggak apa-apa deh. Dengan nilai ini berarti aku harus berubah. Berubah biar aku belajar lebih giat dan lebih rajin lagi.”
Mendengar kata-katanya. Aku mencoba belajar lebih serius. Dan mencoba membaca pelajaran sejarah. Karena pelajaran yang paling kusukai adalah sejarah.
Keesokan harinya. Aku mencoba menyimak pelajaran yang diberikan oleh guru. Pertama pelajaran matematika. Pelajaran yang paling sulit bagiku. Walaupun sudah kucoba tapi aku tetap kesulitan untuk mencernanya. Kedua pelajaran biologi. Pelahjaran ini juga terasa sulit untuk kucerna. Tapi aku berjanji pada diriku sendiri. Kalau nanti malam aku belajar sungguh-sungguh, aku pasti bisa.
***
Hari berlalu begitu cepat. Bagaikan angin yang baru saja melintas didepanku. Kubuka mataku dengan satu helaan napas. Sudah satu bulan aku berada di asrama Taman Madia. Hari ini aku akan menghadapi ulangan sejarah. Aku sudah belajar hingga larut malam. Dan aku berharap nilaiku akan lebih dari lima puluh. Hal itu sudah cukup bagiku. Karena nilai-nilaiku dulu selalu di bwah lima puluh.
Dan ulangan telah dimulai. Aku mencoba mengerjakan sebisaku. Dan aku bersyukur, soal-soal yang kukerjakan sama dengan yang kupelajari tadi malam. Begitu selesai. Pak Ikhtar langsung menyuruh kami untuk menukar jawaban kami dengan teman yang berada di samping kami. Ternyata ini merupakan system ulangan dan penilaian Pak Ikhtar. Kami disuruh mengoreksi ulangan teman-teman kami. Begitu selesai, aku langsung menghampiri Ari yng mengeroksi ulanganku. “aku dapet berapa, Ar?” tanyaku sedikit antusias. “nilaimu bagus, Dod. Kamu dapet delapan puluh.”
Seketika kurampas kertas ulanganku yang berada dalam genggaman Ari. Kutatap nilaiku lekat-lekat. Aku tak percaya dengan nilai sejarahku. Aku berjanji akan kukabari kabar bagus ini pada Ibuku.
Pulang sekolah aku langsung berlari ke wartel. Begitu tersambung dan terdengar seseorang mengangkat. Aku langsung menyebut nama Ibu tanpa salam. “Ibu!” kataku setengah berteriak. “halo, Dodi.” Seketika aku terdiam. Ternyata Bapak yang mengangkat telepon. “Ibumu sakit. Kamu bisa pulang?” aku tercekat. Ibu sakit? Aku segera meletakkan gagang telepon dan lari meninggalkan wartel. Aku mulai khawatir dan entah kenapa mataku mulai terasa panas. Aku mencoba menenangkan diriku. Ibu cuma sakit Dodi! Batinku. Aku terus berlari mencari angkot. Yang aku pikirkan hanya satu. Hanya Ibu. Dialah sahabat yang selalu menyemangatiku. Menemaniku dalam keterpurukanku. Membantuku menyelesaikan masalah matematika setiap malam.
***
Rumahku sudah berada di depan mata. Aku semakin mengencangkan lariku dan begitu tiba di halaman. Aku langsung menerjang masuk ke dalam rumah lalu berlari ke kamar Ibuku. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana. Kasur Ibu tertata rapi seperti tak pernah ditempati. Aku langsung berlari ke belakang mencari Bapak. Namun aku juga tak menemukannya.
Tujuanku kali ini adalah rumah sakit. Aku kembali berlari ke rumah sakit yang dekat dengan rumahku. Setibanya di rumah sakit. Bagaikan orang gila aku mencari Ibu di setiap ruangan. Dan kutemukan Bapak sedang berdiri di ambang pintu, dia tak menyadari kedatanganku. Aku melangkah dengan cepat dan masuk tanpa bersalaman dengan Bapak.
Kutatap wajah Ibu yang terbaring lemah di atas kasur putih rumah sakit. Ibu semakin kurus dan semakin kecil. Kucium tangannya, kugenggam tangannya yang pucat. Aku tidak tahu Ibu menderita penyakit apa. Yang kupikirkan sekarang adalah keselamatan Ibu. “Ibu… aku punya kabar gembira buat Ibu.” Ucapku lirih dan dengan suara bergetar. Walaupun aku tahu Ibu tidak mendengarnya. Aku tetap ingin mengobrol dengannya. “aku dapet nilai di atas lima puluh, Bu. Aku dapet nilai delapan puluh. Aku sudah buktikan ke Ibu kalau semua kerja keras Ibu berhasil. Ibu berhasil ngajarin Dodi setiap malem.” Air mataku mulai mengalir.
“dodi…” kudengar suara Ibu yang lirih. Aku semakin erat menggenggam tangannya.
“ibumu tidak tidur. Dia hanya memejamkan matanya.” Tiba-tiba Bapak berkata. Aku menoleh sekilas padanya lalu kembali beralih pada Ibu. Ibu terus diam tidak mengeluarkan suara lagi. Sementara kekhawatiranku mulai menyusut.
Tiba-tiba genggaman tangan Ibu semakin melemah. Lima belas menit berlalu dan Ibu tetap diam tak bergerak dan juga tak mengeluarkan sepatah katapun. Aku kembali khawatir menatapnya. Aku mencoba merasakan detak jantungnya. Namun tak ada satu detak pun yang keluar. Aku mulai kebingungan. Bapak juga menyadari sesuatu perubahan. Aku berdiri tak tahan menatap wajah Ibu yang telah pergi. Kenapa begitu cepat? Sementara aku masih belum bisa membalasnya.
Aku mulai frustasi. Siapa yang akan mendukungku sekolah kalau bukan Ibu? Siapa yang akan menyemangatiku ketika aku kesusahan dalam belajar? Siapa yang akan memujiku pintar kalau bukan Ibu? Aku kembali mengingat ketika Ibu mengantarkanku sekolah. mencarikanku sekolah baru. Selalu menanyakan PR. Selalu mendengarkan keluh kesahku. Selalu mendengarkan keluh kesah guru tentang aku. Selalu memberiku motivasi. Selalu memarahiku kalau aku malas belajar. Dia adalah Ibu, sahabat sekaligus guruku di rumah. Tapi aku berjanji. Suatu saat nanti aku akan membuktikannya pada Ibu, bahwa semua itu tidak akan sia-sia untukku.

Sewaktu Bagus dan Indah baru berpacaran, Bagus melipat 1000 burung kertas buat Indah, dan menggantungkannya di dalam kamar Indah. Bagus mengatakan, 1000 burung kertas itu menandakan 1000 ketulusan hatinya.

Waktu itu, Bagus dan Indah, setiap detik selalu merasakan betapa indahnya cinta mereka berdua....

Tetapi pada suatu saat, Indah mulai menjauhi Bagus. Ternyata! Indah menikah dan pergi ke Perancis, Paris tempat impiannya, yang selalu muncul dalam setiap mimpi-mimpinya...

Sewaktu Indah mau mutusin Bagus, Indah bilang sama Bagus kayak gini nich:
"Kita harus melihat dunia ini dengan pandangan yang dewasa, Bagus...
Menikah bagi cewek adalah kehidupan yang kedua kalinya! Aku harus bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. Kamu terlalu miskin, Bagus.
Sungguh aku tidak berani membayangkan bagaimana kehidupan kita setelah menikah nanti... Good bye, Bagus!"

Daaannn... setelah Indah pergi ke Perancis, Bagus bekerja keras, dia berjuang dengan sekuat tenaga, dia pernah menjual koran, menjadi karyawan sementara, bisnis kecil-kecilan, dan setiap pekerjaan dia kerjakan dengan sangat baik dan tekun...

Sudah lewat beberapa tahun. Karena pertolongan teman dan kerja kerasnya, akhirnya dia mempunyai sebuah perusahaan. Dia sudah kaya, tetapi hatinya masih tertuju pada Indah, dia masih tidak bisa melupakannya.

Pada suatu hari, waktu itu hujan, dari dalam mobilnya, Bagus melihat sepasang orang tua sedang berjalan sangat pelan disamping mobilnya. Dia mengenali mereka! Mereka adalah orang tuanya Indah.

Bagus ingin menunujukkan kepada kedua orang tua itu bahwa sekarang ia telah menjadi orang yang sukses. Ia tidak hanya mempunyai beberapa rumah pribadi, tetapi juga mempunyai beberapa villa, perusahaan sendiri, dan beberapa buah istri (eh salah jack!) maksud gua, beberapa buah mercy, gitchuu lhooo! Btw Bagus ingin agar mereka tahu kalau Bagus bukan orang yang miskin lagi, dia sekarang adalah seorang "boss". Dan Bagus mengendarai mobilnya dengan sangat pelan sambil mengikuti sepasang orang tua tersebut.

Hujan terus turun, tanpa henti, biarpun kedua orang tua itu memakai payung, tetapi badan mereka tetap basah kuyup karena hujan. Sewaktu mereka sampai di tempat tujuan, Bagus tercengang oleh pemandangan yang ada di depan matanya, itu adalah tempat pemakaman! Dan dia melihat pada papan nisan tertulis nama Indah.

Di samping makamnya yang kecil itu, tergantung burung-burung kertas yang dibuatkan Bagus, dalam hujan, burung-burung kertas itu terlihat begitu hidup. Kedua orang tua Indah memberitahu Bagus, bahwa Indah tidak pergi ke Paris, Indah terserang kanker darah, Indah pergi ke surga. Indah ingin Bagus menjadi "orang", mempunyai keluarga yang harmonis, maka dengan terpaksa Indah berbuat demikian terhadap Bagus. Indah bilang bahwa dia sangat mengerti Bagus, dia percaya kalau Bagus pasti akan berhasil.

Indah juga mengatakan, kalau pada suatu hari Bagus datang ke makamnya, Indah berharap agar Bagus mau membawakan beberapa burung kertas untuknya. Bagus langsung berlutut, berlutut di depan makam Indah, dan menangis dengan begitu sedihnya. Hujan pada hari itu terasa tidak akan pernah berhenti, membasahi sekujur tubuh Bagus. Bagus teringat akan senyum Indah yang begitu manis dan polos. Dan mengingat semua itu, serasa hatinya pedih dan mulai membeku, serasa matanya meneteskan air mata darah...

Sewaktu kedua orang tua ini keluar dari pemakaman, mereka melihat Bagus sudah membukakan pintu mobil untuk mereka. Dan lagu sedih pun mengalun dari dalam mobil tersebut.

"Hatiku tidak pernah menyesal
Semuanya hanya untukmu...
Seribu burung kertas, seribu ketulusan hatiku
Beterbangan di dalam angin
Menginginkan bintang-bintang bersebaran di langit
Bersama-sama melewati sungai perak
Apakah aku bisa bertemu denganmu lagi?
Tidak takut berapapun jauhnya
Sekarang,
Aku hanya ingin langsung berlari ke sampingmu
Dan menggapaimu...
Masa lalu seperti asap
Hilang dan tak'kan pernah akan kembali
Dan itu semua menambah kerinduan di hatiku
Bagaimanapun dicari
Jodoh kehidupan ini pasti tidak akan pernah berubah



Malam yang indah dengan sinar bulan yang menyinari gubuk yang berada di sebuah kampong. Disitu hidup satu keluarga yng kurang rukun. Dia lah Jefri anak semata wayang Ibu Rukmini. Mereka hidup miskin setelah ayah Jefri meninggal. Jefri yang tdi nya seorang anak yang soleh, berubah drastis menjadi anak yang kasar dan sering berlaku buruk terhadap ibu nya. Sedangkan ibunya yang soleh dan sabar sangat terpukul atas perubahan sikap Jefri.
Pagi hari yang cerah dengan suara ayam berkokok telah membagunkan Jefri dari tidurnya dan siap-siap untuk bermain, karena kerjaan nya tiap hari hanya main dan main. Pagi hari itu Jefri yang lapar ingin sekali makan. Jefri pun ke dapur.
“Bu...... Mana makanan untuk saya? Saya lapar nih...” Tanya Jefri.
“Sebentar Nak..... Ibu belum masak! Beras nya habis!” Jawab Ibu.
“Apa....??? Belum masak? Sebenarnya Ibu ngapain aja dari tadi di dapur? Masak aja gak becus”.
“Kan beras nya habis Nak....!”
“Ya tinggal beli lah! Gitu aja kok repot”.
Ibu Rukmini pun pergi kewarung untuk membeli beras buat makan Jefri, walaupun ibu sebenarnya tidak punya uang dan bermaksud untuk ngutang. Karena Ibu Rukmini rela melakukan apa saja demi anak semata wayang nya. Ibu pun pulang dengan warung dan membawa beras 1Liter. Jefri pun makan dan pergi untuk bermain sama teman-teman nya.
Hari demi hari telah Ibu Rukmini rasakan dangan senang hati walaupun sebenarnya hatinya terasa sakit atas kelakuan anaknya.
Suatu hari ibu khawatir karena sudah 4 hari Jefri tidak pulang. Keadaan itu membuat ibu stres memikirkan nya. Ibu pun pergi dengan memekai baju yang sudah tak layak pakai, dekil dan bolong untuk mencari Jefri. Ternyata benar, ketika ibu di perjalanan ibu melihat Jefri dengan memakai baju kaos yang basah, celana nya pada bolong dan memegang sebotol minuman di tangannya juga berjalan leak-leok. Ibu pun bermaksud untuk menghampiri Jefri. Ketika di tengah jalan, tiba-tiba ada sebuah mobil melintas dan langsung menabrak ibu Rukmini. Ibu pun langsung di larikan ke Rumah Sakit.
Ketika di Rumah Sakit. Ibu mengalami koma. Jefri duduk di samping ibusambil mencucurkan air mata nya. Tak lama kemudian, Ibu sadar dari koma nya. Jefri pun langsung memeluk ibunya erat-erat.
“Ibu..... Ibu...... Bangun Bu.....!” Ujar Jefri.
“Ya nak.... Ada apa..??” Jawab Ibu.
“Ibu sekarang sudah sadar...?”.
“Ya nak... Alhamdulillah....”.
“Ibu maafin Jefri ya bu....?”.
“Nak dari dulu ibu sudah maafin Jefri!”.
“Benar Bu..??”.
“Ya nak...!!!”.
Mendangar kata maaf dari ibunya, Jefri pun sangat bahagia dan menyesali perbuatannya terhadap ibunya. Dan Jefri bermaksud untuk merubah semua keburukan sikapnya selama ini.

Analisis
Tema               : Religi
Judul               : Perjuangan Seorang Ibu Untuk Sang Anak
Latar                : Malam hari, Pagi hari, Jalan raya, Rumah, Rumah sakit
Alur                 : Maju
Tokoh              : - Jefri
- Ibu Rukmini

Ada seorang dokter muda yang bepergian dengan isteri dan anaknya.
Di tengah jalan kendaraannya ditabrak oleh sebuah Metromini sehingga anak
dan isterinya terluka.

Dokter muda itu begitu gusar dan terlibat cekcok panjang dengan sopir
Metromini untuk meminta pertanggungjawabannya.

Lalulintas menjadi macet total. Akhirnya dengan membawa perasaan dongkol
karena adu-mulutnya dengan sopir Metromini itu tidak membawa hasil, dokter
itu membawa anak dan isterinya ke Rumah Sakit terdekat.

Namun malang, ternyata isterinya mengalami benturan di bagian kepala
belakang yang sangat keras sehingga ia jatuh koma di perjalanan.

Dengan setengah berbisik karena merasakan kesakitan anaknya berkata,
"Seharusnya Papa segera tolong Mama .. bukan berantem dengan Sopir itu ...."

Ini adalah kecenderungan dasar yang ada dalam diri kita.
Dalam menghadapi persoalan, seringkali kita tidak berfokus pada persoalan
yang kita hadapi dan segera mencari pemecahannya, tetapi justru effort kita
banyak kita pakai untuk mencari-cari "siapa" yang salah.

Kaum professional yang baik akan selalu mempunyai prinsip "Menemukan solusi
jauh lebih penting dari menyalahkan orang."

have a nice day