محمد اندرا أندارون

Your description goes here

  • RSS
  • Delicious
  • Facebook
  • Twitter

Popular Posts

Hello world!
Righteous Kill
Quisque sed felis

About Me

Popular Posts

Thumbnail Recent Post

Righteous Kill

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Quisque sed felis

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Etiam augue pede, molestie eget.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Hellgate is back

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit ...

Post with links

This is the web2feel wordpress theme demo site. You have come here from our home page. Explore the Theme preview and inorder to RETURN to the web2feel home page CLICK ...



Mengapa Yahudi Pintar?



Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh DR.Stephen Carr Leon. Penelitian DR Leon ini adalah tentang pengembangan kualitas hidup orang Israel atau orang Yahudi.



Studi yang dilakukan mendapatkan fakta-fakta sebagai berikut :

Ternyata, bila seorang Yahudi hamil, maka sang ibu segera saja meningkatkan aktivitasnya membaca, menyanyi dan bermain piano serta mendengarkan musik klasik. Tidak itu saja, mereka juga segera memulai untuk mempelajari matematika lebih intensif dan juga membeli lebih banyak lagi buku tentang matematika, mempelajarinya, dan bila ada yang tidak diketahui dengan baik, mereka tidak segan-segan untuk datang ke orang lain yang tahu matematika untuk mempelajarinya. Semua itu dilakukannya untuk anaknya yang masih didalam kandungan.

Setelah anak lahir, bagi sang ibu yang menyususi bayi nya itu, mereka memilih lebih banyak makan kacang, korma dan susu. Siang hari, makan roti dengan ikan yang tanpa kepala serta salad. Daging ikan dianggap bagus untuk otak dan kepala ikan harus dihindari karena mengandung zat kimia yang tidak baik untuk pertumbuhan otak si anak. Disamping itu sang ibu diharuskan banyak makan minyak ikan (code oil lever).

Menu diatur sedemikian rupa sehingga didominasi oleh ikan. Bila ada daging, mereka tidak akan makan daging bersama-sama dengan ikan, karena mereka percaya dengan makan ikan dengan daging hasilnya tidak bagus untuk pertumbuhan. Makan ikan seyogyanya hanya makan ikan saja, bila makan daging, hanya makan daging saja, tidak dicampur. Makan pun, mereka mendahulukan makan buah-buahan baru makan roti atau nasi. Makan nasi dulu baru kemudian makan buah, dipercaya akan hanya membuat ngantuk dan malas berkerja.

Yang istimewa lagi adalah : Di Israel, merokok itu tabu! Mereka memiliki hasil penelitian dari ahli peneliti tentang Genetika dan DNA yang meyakinkan bahwa nekotin akan merusak sel utama yang ada di otak manusia yang dampaknya tidak hanya kepada si perokok akan tetapi juga akan mempengaruhi “gen” atau keturunannya. Pengaruh yang utama adalah dapat membuat orang dan keturunannya menjadi “bodoh” atau “dungu”. Walaupun, kalau kita perhatikan, maka penghasil rokok terbesar di dunia ini adalah orang Yahudi! Tetapi yang merokok, bukan orang Yahudi.

Anak-anak, selalu diprioritaskan untuk makan buah dulu baru makan nasi atau roti dan juga tidak boleh lupa untuk minum pil minyak ikan. Mereka juga harus pandai bahasa, minimum 3 bahasa harus dikuasai nya yaitu Hebrew, Arab dan bahasa Inggris. Anak-anak juga diwajibkan dan dilatih piano dan biola. Dua instrument ini dipercaya dapat sangat efektif meningkatkan IQ mereka. Irama musik terutama musik klasik dapat menstimulasi sel otak. Sebagian besar dari musikus genius dunia adalah orang Yahudi.

1 dari 6 anak Yahudi, diajarkan matematika dengan konsep yang berkait langsung dengan bisnis dan perdagangan. Ternyata salah satu syarat untuk lulus dari Perguruan Tinggi bagi yang Majoring nya Bisnis, adalah, dalam tahun terakhir, dalam satu kelompok mahasiswa (terdiri dari 10 orang), harus menjalankan perusahaan. Mereka hanya dapat lulus setelah perusahaannya mendapat untung 1 juta US Dollar. Itulah sebabnya, maka lebih dari 50 % perdagangan di dunia dikuasai oleh orang Yahudi. Design “Levis” terakhir diciptakan oleh satu Universitas di Israel, fakultas “business and fashion“.

Olah raga untuk anak-anak, diutamakan adalah Menembak, Memanah dan Lari. Menembak dan Memanah, akan membentuk otak cemerlang yang mudah untuk “fokus” dalam berpikir!

Di New York, ada pusat Yahudi yang mengembangkan berbagai kiat berbisnis kelas dunia. Disini terdapat banyak sekali kegiatan yang mendalami segi-segi bisnis sampai kepada aspek-aspek yang mempengaruhinya. Dalam arti mempelajari aspek bisnis yang berkaitan juga dengan budaya bangsa pangsa pasar mereka. Pendalaman yang bergiat nyaris seperti laboratorium, “research and development” khusus perdagangan dan bisnis ini dibiayai oleh para konglomerat Yahudi.

Tidak mengherankan bila kemudian kita melihat keberhasilan orang Yahudi seperti terlihat pada : Starbuck, Dell Computer, Cocacola, DKNY, Oracle. pusat film Hollywood, Levis dan Dunkin Donat.
Khusus tentang rokok, negara yang mengikuti jejak Israel adalah Singapura. Di Singapura para perokok diberlakukan sebagai warga negara kelas dua. Semua yang berhubungan dengan perokok akan dipersulit oleh pemerintahnya. Harga rokok 1 pak di Singapura adalah 7 US Dollar, bandingkan dengan di Indonesia yang hanya berharga 70 sen US Dollar. Pemerintah Singapura menganut apa yang telah dilakukan oleh peneliti Israel, bahwa nekotin hanya akan menghasilkan generasi yang “Bodoh” dan “Dungu”.

Percaya atau tidak, tentunya terserah kita semua. Namun kenyataan yang ada terlihat bahwa memang banyak sekali orang yahudi yang pintar!



Dapatkah Indonesia menjadi bangsa yang unggul?

1. Selama kebanyakan masyarakat Indonesia berpegang pada prinsip "Uang tidak dibawa mati" jawabannya jelas "TIDAK."
Kalau berprinsip tak apa di hidup di dunia miskin asal di akhirat kaya, ya lanjutkan. Tapi jangan menyalahkan pemerintah jika anda hidup miskin.

2. Bangsa Yahudi itu dulu budak di Mesir. Bangsa Indonesia hanya pernah dijajah, bukan budak. Nah kalau bangsa yang dulu diperbudak saja dapat menjadi bangsa kecil namun mendominasi dunia, berarti Indonesia jauh lebih bisa. Asal... (Silakan lanjutkan sendiri)




Makna warna

Hitam: kecanggihan, kekuasaan, misteri, rahasia, resmi, jahat, kematian,

Abu-abu: stabil, keamanan, kemantapan dari karakter, wewenang, kedewasaan,

Ungu: Kerajaan, kemewahan, martabat, kebijaksanan, spiritual, hasrat, visi, magis,

Kuning: kegembiraan, keceriaan, keramahan, intelektualitas, energi, kehangatan, kewaspadaan, pengecut,

Putih: kesegaran, harapan, kebaikan, cahaya, kemurnian, kebersihan, kesederhanaan, ketenangan, menyerah

Merah muda: Asmara, kasih sayang, kesetiaan, kecantikan, cinta, persahabatan, sensitivitas,

Merah: Hasrat, berani, asmara, semangat, berenergi, bahaya, darurat,

Biru: damai, stabil, ketenangan, percaya diri, ketenteraman, ketulusan, perhatian, integritas,

Hijau: kehidupan, pertumbuhan, linkungan, penyembuhan, uang, keamanan, relaksasi, kesegaran, alami,


Sumber: https://www.facebook.com/ourhand

Catatan: Beberapa arti warna dapat memiliki makna yang berbeda-beda tergantung budaya, keyakinan, konteks, dsb.

Bersyukur Bukanlah Tidur
Bersyukur bukan berarti cuma tidur
Walau tanah kita subur
Jangan mau cuma bisa makan bubur!

Dari pada memilih menganggur
Atau cuma mimpi menikmati anggur
Lebih baik babak belur
Atau gugur dalam bertempur
Supaya hidup lebih makmur

Jangan takut apa yang terlihat kabur
Jangan sampai tekadmu kendur
Niatmu janganlah luntur
Hanya karena jatuh janganlah mundur
Melesatlah seperti panah dari busur

Kreatiflah, jangan bisanya cuma menyadur
Beranilah beda walau kita membaur
Jangan latah jangan takut digusur
Sungai gagasan perlu ditelusur

Wanita pandailah berlulur
Pandai jugalah saat di dapur

Yang sementara jangan membuatmu tergiur
Yang palsu jangan dibuat penghibur

Jangan rapuh seperti kapur
Jangan pecah seperti telur
Jangan cengeng ketika terbentur
Tetap bersyukur saat terjaga ataupun tidur
Jangan cuma bisanya mendengkur

Punya lidah jangan asal terjulur
Bicara jangan melantur
Jangan suka berpikir ngawur

Santun dalam bertutur
Berkata dan berbuat jujur

Selalu menyapa selalulah menegur
Dengan sesama selalulah akur
Urusan orang lain jangan ikut campur
Peduli jangan salah jalur

Karang keras pun hancur lebur
Karena ombak dan debur
Nikmati bekerja walau harus terjemur
Rasakan cinta walau peluh mengucur
Santai saja walau keringat berlumur
Tak apalah walau harus lembur

Gaji kecil jangan jadi tolak ukur
Ikuti saja alur

Buatlah lahan gersang jadi gembur
Berhenti harapkan hujan, buatlah sumur
Jangan hanya memikirkan kasur
Jangan tergesa di depan rumah pasang janur

Selalu tersenyum selalulah merasa syukur
Sepanjang hidup hingga tubuh terbujur

Memori Pelantikan di Si Domba :)




Jakarta, Dr William Bates adalah seorang spesialis mata yang telah meninggal dunia sejak lama tahun 1931. Sang dokter yakin banyak orang yang sebenarnya tidak perlu menggunakan kacamata dengan cara melatih matanya.

Meski menghilangkan minus mata tanpa operasi masih jadi kontroversi, tapi terbukti banyak pengikut Dr Bates yang berhasil menurunkan minusnya.

Panduan menurunkan minus yang dicatat dalam bukunya berjudul 'Better Eyesight Without Glasses', tentu saja bertentangan dengan praktik dokter mata saat ini. Mata minus saat ini hanya bisa turun atau hilang hanya dengan operasi mata seperti lasik.

Dr Bates menemukan teknik ini setelah melakukan percobaan selama bertahun-tahun. Dr Bates mengembangkan latihan untuk meningkatkan kemampuan mata agar bisa melihat normal dan menghilangkan ketegangan yang ada akibat kebiasaan melihat dengan buruk yang menjadi penyebab masalah penglihatan.

Bukunya yang dipublikasikan pada tahun 1920, terus dijual hingga hari ini. Metode Bates tetap bermanfaat dan diikuti oleh ribuan orang di seluruh dunia.

Latihan-latihan ini didasarkan pada keyakinan bahwa secara alami mata bisa melihat dengan jelas. Setiap orang baik anak-anak maupun orang dewasa dapat belajar untuk melihat secara lebih baik lagi tanpa menggunakan kacamata.

Latihan penglihatan ini bertujuan untuk mendidik mata sehingga bisa mengatur fokus agar lebih efisien atau disebut dengan 'fiksasi sentral'. Otot-otot mata harus dapat bergerak bebas dan membuat penyesuaian kecil yang diperlukan untuk memusatkan obyek yang dilihat.

Mata menjadi tegang karena dalam posisi tetap 'menatap' objek daripada melakukan gerakan konstan. Latihan ini mengajarkan seseorang untuk mengendurkan otot-otot mata dan saraf optik serta menggunakan memori dan imajinasi untuk meningkatkan koordinasi antara mata dan otak.

Latihan ini juga membantu mengatasi ketergantungan seseorang pada kacamata. Dasar dari terapi ini adalah keyakinan bahwa kombinasi dari tubuh, pikiran dan jiwa digunakan untuk melihat. Selain itu makanan, postur tubuh, stres dan kesehatan seseorang juga mempengaruhi penglihatan.

Seperti dikutip dari Eyehealthremedies, Jumat (12/3/2010) ada beberapa Metode Bates yang bisa dilakukan, yaitu:

1. Bersembunyi
Latihan penglihatan ini membantu mata untuk rileks dan beristirahat.
Cobalah duduk dengan nyaman di depan meja kemudian taruh beberapa bantal hingga tingginya sejejer mata. Letakkan siku tangan di atas bantal tersebut kemudian tutup mata dengan dua telapak tangan hingga tidak ada cahanya yang masuk. Bernapaslah perlahan, santai dan membayangkan dalam kegelapan. Mulailah melakukan hal ini selama 10 menit sebanyak 2-3 kali dalam sehari.

2. Menggoyangkan bola mata
Cobalah berdiri dan fokus pada titik yang jauh, lalu goyangkan bola mata dari kiri dan kanan atau sebaliknya sambil berkedip sebanyak 100 kali setiap hari. Berkedip berguna untuk membersihkan dan melumasi mata.

3. Memilih satu warna dalam satu hari
Pilihlah satu warna berbeda tiap hari dan melihat keluar dengan objek warna yang dipilih sepanjang hari. Ketika melihatnya seseorang akan lebih menyadari warna daripada bentuknya.

4. Berjemur
Cobalah untuk melakukan hal ini sekali dalam sehari. Kegiatan ini membutuhkan hari yang cerah atau cahaya lampu yang bagus.

Caranya tutup mata lalu lihat langsung ke matahari melalui mata tertutup. Sambil melihat matahari, perlahan-lahan gerakkan kepala ke kiri dan ke kanan sampai sejauh yang Anda bisa hingga hampir menyentuh pundak. Hal ini membantu membawa lebih banyak sirkulasi darah ke leher. Lakukan hal ini selama 3-5 menit.

5. Menggeser penglihatan
Banyak orang yang menghabiskan waktu untuk menatap layar komputer di depan wajahnya. Cobalah untuk menggeser penglihatan Anda pada tenunan kain di lengan baju, poster di dinding atau pohon di seberang jalan. Hal ini dapat membantu meningkatkan penglihatan periferal dan dapat membantu rabun jauh, rabun dekat dan masalah penglihatan lainnya. Bahkan pada beberapa kasus bisa menghilangkan katarak.

Dr William Bates memberikan tips agar saat melakukan senam mata melepaskan kacamata atau kontak lensa agar merasa lebih nyaman dan santai. Ketika melakukan latihan ini cobalah untuk sangat berkonsentrasi pada mata sehingga hasilnya lebih maksimal.


(ver/ir) 
 
sumber http://health.detik.com/read/2010/03/12/145336/1317190/766/metode-bates-untuk-menurunkan-minus-mata


Garam Mogok Asin
Aku garam. Bentukku macam-macam. Kebanyakan sudah halus dan siap tabur. Tapi di kampung-kampung, masih ada juga yang menggunakanku dalam bentuk kotak-kotak batangan. Mesti ditumbuk sebelum dicampur dalam masakan agar cepat larut.
Rasaku? Jangan ditanya lagi. Keasinanku sudah terkenal dari masa ke masa. Ada yang sangat asin, asin dan cukup asin. Maka kau bisa menaburkanku sesuai dengan kadarnya.
Tanpaku masakan jadi terasa hambar dan tak nikmat. Coba saja kalo tak percaya. Tapi jangan coba-coba mencicipinya begitu saja dalam jumlah banyak. Lidahmu akan kelu keasinan.
Sebalnya, manusia tak menghargaiku! Berapa coba harga garam? Dengan lima ratus rupiah, manusia bisa mendapatkan sekantong garam. Padahal fungsiku tak sebanding dengan harga belinya. Seenaknya saja mereka meremehkanku. Mentang-mentang aku ada dalam jumlah banyak.
Aku memutuskan memulai aksi protes ini dengan mengirimkan sms berantai ke kawanan garam di sebuah kampung.
“Prens, sudah saatnya kita menyuarakan hak kita. Keadilan harus ditegakkan. Jangan mau dihargai semurah ini sementara manusia begitu rakus memanfaatkan kita. Mari bersama kita melakukan gerakan aksi anti asin. Setiap kita yang dicampur dalam masakan, jangan keluarkan rasa asin itu!”
Aku tersenyum puas. Smsku terkirim sempurna ke aneka ragam dan rupa garam di kampung ini. Rasakan pembalasan kami wahai manusia!
“Tadi saya masak sayur pake lima sendok garam, kok enggak asin ya?” seorang ibu curhat pada tetangganya di forum arisan.
“Jangankan lima sendok. Saya pake lima bungkus saja tidak asin,” Ibu lain menyeletuk bingung.
“Suami saya mengira saya enggak pake garam. Sampe ngasih uang belanja tambahan untuk beli garam,” Ibu muda yang punya anak balita ikut nyambung.
“Sayur saya juga hambar. Saya sampe beli garam di kampung sebelah. Tapi setelah masuk kampung kita, asinnya hilang. Padahal saya udah bela-belain nyicip itu garam di warung kampung sebelah,” Ibu yang gemuk ikut berkomentar.
Aku mneyeringai penuh kemenangan. Rasakan kau!
Aksi yang kumobilisasi ini akhirnya terdengar juga hingga garam-garam di kampung lain, hingga sampai pada tambak-tambak pembuatan garam dan bergaung di lautan. Bangga jadinya. Ada yang mendukung, ada yang acuh, ada yang mencemooh. Biarin, bukankah perubahan selalu dimulai dengan penolakan?
Laut akhirnyamengirimsms padanku, menanyakan sebab musabab boikot kami. Bagaimanapun juga ia berperan melahirkanku menjadi garam.
“Kita gak dihargai sebagaimana mestinya. Makanya kita protes,”
“Emang kamu mau minta dihargai berapa?”
“Yah, jangan lima ratus rupiah lah,”
“Kan kalo beli garam satu truk harganya bukan limaratus rupiah,”
Aku mendengus marah.
“Enakan punya nilai diri daripada harga diri?”
“Maksudnya?” aku bertanya.
“Jangnlah kita peduli berapa kita dihargai orang. Bagaimana kita dinilai orang. Asalkan kita tetap memberikan manfaat bagi mereka. Itulah nilai diri,”
“Bagaimana bisa?” aku protes.
“Kita tak butuh penghargaan. Bermanfaat saja sudah membahagiakan hati. Asal kita lapang dan ikhlas melakukannya,”
Aku termenung sesaat. Teman-teman garam lain juga ikut berpikir.
“Jadilah garam yang dicari karena manfaatnya meskipun kau terlihat sepele dan remeh. Bagaimanapun mereka membutuhkanmu. Bukankah tujuan kehidupan kita adalah bermanfaat bagi yang lain?”
Aku jadi malu dengan ucapan laut. Ia memang selalu luas dan lapang hatinya. Ia selalu menerima segala sesuatu yang dikirim sungai tanpa protes. Mau air, mau sampah, mau limbah, mau mayat. Ia terima dengan terbuka. Ia kembalikan pada pesisir pantai pada waktunya.
Andai aku bisa selapang laut dengan kedalaman keikhlasannya, tentulah tak jadi soal bagaimana manusia menghargaiku. Bermanfaat bagi mereka menjadi nilai pribadiku semestinya.
“Alhamdulillah, garam saya sudah asin lho,”
“Iya, masakan saya kembali nikmat. Suami dan anak-anak tak lagi protes,”
“Garam benar-benar bermanfaat ya,”
Saya tersenyum bahagia mendengarnya. Kami mengakhiri mogok kami usai berdialog dengan laut kemarin sore.
Sekarang, saatnya aku berkorban. Sebuah wajan panas dengan tumisan kangkung memanggilku mesra. I’m coming!


“Setiap orang berhak bahagia”.
Itu kata-kata yang sering aku dengar dari mulut orang-orang.
Dan aku fikir itu adalah perkataan yang benar.
Karena aku pernah merasakan kebahagiaan itu.
Dulu, aku adalah orang yang bahagia.
Aku punya keluarga yang peduli samaku, punya banyak teman yang sayang samaku, dan aku juga punya pacar yang cinta samaku.
Dan menurut aku, kelengkapan inilah yang dinamakan sebuah kebahagiaan.
Tapi, sebuah kejadian mengingatkanku dengan lagu Peterpan – Tak Ada Yang Abadi.
Karena memang tidak ada yang abadi didunia ini.
Termasuk kebahagiaan.
Selalu ada cara tersendiri dari Tuhan untuk mencabut nikmat kebahagiaan itu.
Dan aku, juga merasakannya.
Sebuah keputusan yang aku lakukan tanpa berfikir panjang, membuatku kehilangan semuanya.
Aku adalah seorang laki-laki yang bekerja sebagai seorang Karyawan disebuah Perusahaan Swasta.
Sifatku yang suka bergaul dengan teman-temanku, membuat aku jadi sering mentraktir mereka dalam setiap pertemuan.
Mulai dari mentraktir makan, minum, bahkan rokok sekalipun, aku yang traktir.
Sampai suatu hari uang itupun enggan buat masuk kedompetku lagi.
Iya, kapal perekonomianku lagi goyang saat itu.
Akupun jadi bingung, “Bagaimana bisa aku berkumpul dengan teman-temanku tanpa uang sepeserpun?”.
Sore itu, aku merenung di bawah pohon rindang yang terletak di belakang kantorku.
Aku masih berfikir, “Haruskah aku berkumpul dengan teman-temanku malam ini?”
Aku menunggu, dan terus menunggu.
Menunggu aku menjawab pertanyaanku sendiri.
Sampai Bang Sitompul, seorang yang bekerja sebagai Administrasi di perusahaan ini, datang menghampiriku.
“Kau kenapa Leo?” Tanya dia.
“Biasalah bang, masalah uang.” Jawabku dengan lesu.
Lalu dia datang menghampiriku lebih dekat, dan berbisik “Abang akan membantumu dengan cara yang tidak halal. Kau mau?”.
Aku berfikir, dan berfikir lagi.
Sampai akhirnya, untuk teman-temanku, aku berfikir untuk “mengiyakannya”.
Setelah itu, uang pun mengalir dengan indahnya ke dalam dompetku.
Akupun bisa tertawa lepas saat berkumpul dengan teman-temanku, bisa merasakan kesenangan yang luar biasa saat bertemu dengan pacarku.
Aku berhasil mempertahankan kebahagiaanku.
Sampai suatu hari, polisi datang kerumahku.
“Anda saudara Leo?” Tanya dia.
“Benar pak. Ada apa yah?” Tanyaku sedikit gugup.
“Maaf, ini ada surat perintah penahanan terhadap saudara.” Jelasnya, sambil memperlihatkan sebuah kertas kepadaku.
“Loh! Tapi salah saya apa pak?” Tanyaku benar-benar kaget.
“Nanti bisa saudara jelaskan di kantor polisi.” Jelasnya.
Sesuatu yang benar-benar menyeramkan, tapi ini bukan mimpi.
Tanganku diborgol, kedua orang tuaku menangis, ternyata ini benar-benar kenyataan.
Sesampainya dikantor polisi, aku melihat Bang Sitompul dan segenap pihak Perusahaan ada disana.
Ternyata, aku dan Bang Sitompul tertuduh atas tuduhan Penggelapan Terhadap Perusahaan.
Perasaanku benar-benar hambar, sangat hambar.
Bahkan aku sudah tidak mampu lagi membedakan antara rasa takut dan menyesal.
Semuanya berputar di hati ini, sampai akhirnya polisi menjadikan kami tersangka atas tuduhan yang di lampirkan oleh pihak perusahaan.
Benar-benar sebuah mimpi bagiku bisa tidur di balik jeruji besi ini.
Tapi inilah kenyataan yang harus kuterima.
Aku mendekam dipenjara.
Dua bulan berlalu.
Dan aku yang pada saat itu berusia 19 tahun, dipindahkan ke sebuah Lembaga Permasyarakatan Anak (LPA) untuk mengikuti persidangan.
Sementara Bang Sitompul dipindahkan ke Lembaga Permasyarakatan Dewasa (LPD), dikarenakan usianya yang sudah dewasa.
Setelah beberapa kali mengikuti persidangan, akhirnya Hakim menjatuhi hukuman terhadap kami dengan masa pidana “1 tahun dan 6 bulan”.
Aku terkejut, karena itu merupakan waktu yang lama.
Sementara ibuku yang pada saat itu hadir dipersidangan, pingsan karena mendengarkan masa pidana yang diberikan oleh Hakim itu.
Aku hanya bisa terdiam.
Kecewa terhadap diriku sendiri.
Tapi ini adalah sebuah pelajaran hidup yang harus aku pelajari.
“Apa hikmah dibalik semua ini?”.
1 tahun dan 6 bulan pun berlalu.
Senang, sedih, ketawa, menagis, semua kurasakan di LPA ini.
Dan aku bersyukur, karena ternyata aku mampu melewati masa sulit ini dengan baik.
Sesampainya dirumah, aku langsung memohon maaf kepada kedua orang tuaku.
Aku benar-benar menyesal atas apa yang telah aku perbuat.
Dan berjanji tidak akan pernah mengulanginya lagi.
Saat malam, aku berniat untuk menemui pacarku dirumahnya.
Rasanya kebahagiaan itu benar-benar kembali saat aku keluar dari LPA itu.
Tapi ternyata aku salah.
Aku malah diusir oleh pacarku.
“Lebih baik kamu pulang aja deh. Aku nggak mau pacaran sama mantan Napi! Kita putus!” Jelasnya dengan emosi yang tinggi.
“Tapi…” Aku ingin berusaha menjelaskan semuanya.
“Nggak ada pakai tapi! Pulang kamu sana!” Potongnya sambil mengusirku.
Aku berjalan meninggalkan rumahnya sambil menangis.
“Sehina inikah aku dimata orang-orang?”.
Aku terus menangis, menahan rasa sakit, sampai akhirnya aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi.
Akhirnya aku putuskan untuk minum di sebuah Café, sambil menenangkan diri.
Saat masuk ke pintu Café, aku melihat teman-temanku lagi berkumpul disana.
Karena merasa senang, aku menghampiri mereka.
Aku duduk diantara mereka.
Tapi apa?
Sejak aku duduk disitu, satu per satu dari mereka pergi meninggalkan aku.
Dan akhirnya, hanya tinggal aku sendiri yang duduk disitu.
Sekarang, aku benar-benar merasa hina.
Selesai menghabiskan minumanku, aku putuskan untuk pulang kerumah.
Aku masuk kekamar, dan merebahkan badanku ditempat tidur.
Berharap waktu bisa berputar kembali.
Tapi kenyataannya, hidup terus berjalan maju.
Seberat apapun masalah yang aku hadapi, semua pasti ada hikmahnya.
“Tapi, apa hikmah dibalik semua ini?”.
“Apakah aku harus jadi manusia yang jujur?”.
“Apakah aku tidak boleh terlalu baik sama orang-orang yang aku sayangi?”.
“Apakah aku harus lebih mendekatkan diri kepada Tuhan?”.
Aku tidak bisa menemukan jawabannya.
Mungkin karena aku telah jatuh ke jurang yang terlalu dalam, hingga akhirnya aku tidak mampu lagi memikirkan daratan yang ada diatas sana.
Yang kufikirkan hanyalah “Mampukah aku bertahan hidup sesampainya aku diujung jurang ini?”.
Namun, tidak ada yang menjawabnya.
Karena jawabannya ada diujung jurang itu.


Diantara banyak bintang bertaburan dilangit malam yang sunyi, gue nemuin satu bintang yang paling terang dari yang bersinar. Dia indah, gue seneng mandanginnya, gue seneng liat sinarnya, indahnya bikin gue lupa tentang masalah gue. Mungkin inilah keindahan Allah SWT yang memberikan gue mata yang sempurna agar melihat suatu hal yang indah pula. Walaupun bintang itu milik Allah tapi gue bisa nikmatinnya, bikin gue tenang. Kalian tau ga? Bintang itu indah saat ia bersinar, andai setiap malam gue bisa liat bintang itu bersinar dan menerangi kelamnya malam. Ga semua bintang bisa seindah itu, kadang kalo malem dateng dan gue menengadah buat cari bintang yang bersinar rasanya sulit, dia ga selalu hadir disetiap malam, ga selalu ada buat nerangin malem, dan ini yang ga gue pengen. Gue pengen bintang bisa hadir setiap saat, dan disaat gue butuh dia
Errrr— banyak banget masalah yang gue hadepin belakangan ini, kenapasih gue gabisa dapet ranking terbaik disekolaah? Kenapa sih gue pemales, kalo orang beres-beres gue pasti diem, gue pemales? Kapan gue bias bikin karya indah yang bisa bikin gue bangga dengan hasil itu? Kapan gue bisa banggain orangtua gue dengan pencapaian gue selama ini? Kapaaaaaan? Gue ngerasa hidup gue itu—ga guna, ga rugi orang lain ga liat gue, soalnya gue gabisa apa apaaaa errrrrrr—
“yaaa, kenapa ya gue tuh gabisa bikin orang tua gue bangga. Masa ranking gue turun dan gue sekarang makin lama dirumah tuh makin males. Kayaknya tuh gue ga guna banget–” Tanya gue ke aria yang ada dihadapan gue bersama snack serena kesayangannya.
“hus ga boleh gitu—ranking doang turuuun tapi nila naek kan. Udah kalem ajaaa. Ohiya nay, lu bantuin gue ya buat bikin cerpen—gue gabisa ngerangkai kata-katanih” pinta aria ke gue.
“ih ya, gue gabisa apa apa-__- mana bisa bantuin eluu bikin cerpen coba?” jawab gue bête.
“ih nay lu mah suka aneh, lu kan lebih jago dari gue. Ohiya, nanti lu yang sebarin cerpennya ya, kan lu banyak temen” pinta aria mengelak apa yang gue bilang
“aria ariaaaa—gue mah gabanyak punya temen ah , mening elu aja. Emang cerpen buat apa?” jawab gue lagi sambil mengambil jus alpukat yang baru aja datang ke meja tempat kita berdua duduk di kantin kampus
“tuh kan lu mah suka gitu nay ah bête gue” aria marah
“ya emang iya kan ya, gue gasehebat elu yang punya banyak karya dan pinter. Udah ah gue males mikirin ini itu—gue pusing. Otak gue serasa mau mudaaal. Pulang yu ya” gue mengelak dari apa yang aria omongin, sambil menghabiskan jus alpukan gue berdiri. Otak gue pusing, gue lagi males berhadapan sama masalah.
“…” aria berdiri dari bangkunya dan menyusul gue yang udah berjalan duluan untuk naik bus pulang
Kita berjalan dalam diam menuju halte bus, tiba-tiba aria memecahkan keheningan ini
“nayaka, asal lu tau. Kalo lu terus liat keatas membandingkan diri lu dengan orang lain yang lebih hebat itu cuman bisa bikin lu terpuruk. Lu ga akan bias ngeliat potensi lu sendiri. You have nayaka, admit it”
“tapi yaaa…” gue sedikit cemberut
“tanpa lu sadarin banyak orang disekelilinglu yang lebih gaguna nay, lu liat eza yang kerjaannya kelayapan tiap malem, nilai jeblog, dan ga dipeduliin sama orang tuanya, termasuk gue. Lu masih ngerasa elu orang paling ga guna? No nayaka! you have your own potential you have a good skill to make an article or a story. you have nay jangan pernah berfikir kamu itu sendiri disini, gapunya temenlah, inilah itulah, gue? Ada gue disini nay, gue bakal selalu ada. Lu anggep gue bukan temen? Jangan selalu bayangin yg ga ada tapi manfaatin yang ada nayaka”
Aria.. that’s a best part I ever hear from his mouth—ever. Dia emang bener bener sahabat gue yang paling ngerti apapun tentang gue. Baru gue sadarin, ngapain gue selalu mikirin yang ga ada, ngerasa ga ada temen, jelas jelas aria selalu ada buat gue. Gue ngerasa ciut? Hidup itu bukan untuk menyesali tapi untuk mensyukuri. Liat kebawah untuk merasa kita mampu dan liat keatas supaya kita termotivasi. Itu semua udah gue simpen diotak gue rapetrapet. Petuah dari aria yang bisa bikin hidup gue berubaaaah.
Setelah hari itu, gue mulai menyadari pentingnya waktu dan menghargai teman. Sekarang waktunya gue menerima hasil ujian praktek. Entah apa yang bakal gue dapet. Aria udah lebih awal mendapatkan hasil ujian praktek gitarnya, dengan sempurna ia mendapat 5 bintang dari dosen kita. Gue masih tetep nunggu dengan sabar.
“bosen ya nay?” Tanya aria ke gue yg memasang wajah kecut dan tangan disimpan didagu sambil duduk dikursi taman dekat gedung fakultas kami.
“hmmm.. gue laper abisnya” jawab gue ketus
“dih jutek cuman garagara laper, yaudah ayo makan dulu” tawar aria sembari berdiri dari duduknya
“ah engga ah, gue mau nungguin hasil ujiannnya”
“yaelaaaaaaaa nayaka lu pasti lulus dan dapet hasil terbaik. Percaya deh sama gue”
“gimana caranya gue bisa pegang omongan lu ya?”
“lu pikirin aja sendiri, seberapa besar usaha lu saat melakukan ujian praktek. Itu hasilnya lu bisa ukur sendiri”
“sialan ini orang selalu nyihir gue dengan omongannya” gumam gue
“hehehhe” aria yang mendengar gumaman itu tertawa merasa dirinya disindir.
**
“ARIAAA!!! I’ve got what I want!” suara gue menggema diantara pohon pohon taman kampus gue. Aria duduk dengan iPodnya menunggu gue dikursi taman. Sedikit kaget melihat gue. Dia berlari dan menanyakan kebenaran katakata gue
“beneraaaaan?!!” tanyanya girang
“iya yaaaaaa Aaaaaaaaa seneeeng!!” jawabku lebih heboh darinya
“yeeeeeeeee nay lu berhasiiil asik party asik party” jawabnya sumringah
“hem engga ada party partyan. Gue mau male mini cuman gue sama bintang dilangit yang bersinar yang ngerayain. Besok aje lu gue traktir ya yaaa ;) ”
“dih si nayaka nyebelin amat-___- kalo udah liat bintang susah banget diganggu”
mata gue terbuka lebar, gue menengadah memandangi langit malam yang bertabur bintang. And I’ve got the best reward! And this is my favorite! See the star. Bintang, gue paling suka bintang—indah, bersinar, terang, dan bikin gue tenang. Setiap gue liat ada satu bintang paling terang dilangit teras kamar gue, gue pastiin itu Aria. Aria sahabat gue, dia sama kaya bintang. Katakatanya bisa bikin gue tersihir setengah duduk buat berubah. Sama halnya dengan bintang yang bisa nyihir gue saat sinarnya sangat benderang dilangit. Bintang ga selalu bersinar setiap saat. Walaupun cuman malam yang bisa bikin gue ketemu sama dia tapi itu berarti bagi gue. Sebentar yang bermakna. Mulai saat ini gue ga akan nyia nyiain hidup gue lagi cuman buat menyesali sesuatu. Gue inget kata kata aria yang dia bilang saat gue lagi bête “belajar lah dari masa lalu, hidup untuk hari ini, dan bermimpi untuk masa depan”
“thanks ya, gue tau seberapa berharga sinar bintang dimata gue, sama halnya dengan elu yang lebih berharga dari itu.”
mata gue terpejam menikmati malam diantara banyak bintang bertaburan dilangit luas, diatas rerumputan halaman


Di sebuah kota besar yang berada di antara benua asia dan Australia,pada pagi hari seperti biasa seorang pekerja serabutan berangkat dengan gesit langsung memenuhi kewajibanya sebagai seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab terhadap keluarganya, ia menuju tempat yang ia pikir bisa memenuhi kebutuhan rumah tangganya.
tak di sangka ada gedung yang akan di bangun di sekitar rumah nya tinggal dia pun langsung berangkat menawarkan jasa kepada orang yang bertugas di sana,
” pak permisi ! apakah saya bisa menawarkan jasa saya disini ?”
” oh ia, tentu saja bisa ! kamu langsung bantu pekerja yang di sebelah utara sana dan pertama – tama siapa nama bapak ?”
” nama saya Ilham pak ! saya kebetulan tinggalnya dekat sini”
” baguslah kalau begituh, yah bapak bisa mulai bekerja !!!”
” ia pak terimakasih pak ”
dengan penuh semangat dia dan pekerja lainnya bekerja dengan penuh keringat dia dan pekerja lainnya berhasil menyelesaikan penyangganya.
hari demi hari minggu demi minggu bulan demi bulan gedung yang di bangun mulai kelihatan walau pun hanya kerangka besi yang menjulangtinggi dan bisa saja sewaktu waktu roboh karna bencan atau angin yang kuat, tapi pak ilham menghiraukan nya karena ia meyakini keluarganya lebih berharga dari pada dirinya sendiri.
Dan suatu saat pak ilham seperti biasa pada sore hari dia akan meminta bayaran atas jasanya, tak di sangka bos yang mempekerjakanya sedang di tegur oleh atasanya.
” pak Budi, apakah bangunan yang di barat sudah ada sketnya ? ”
” hmmm, maaf pak tapi saya belum mendapatkan sketsanya dan arsitek yang membuat sketsanya blim datang dari minggu kemari sedangkan kami sudah emberi tahu nya tentang proyek ini dan lagi kami tidak bisa berkomunikasi dengannya ”
” ini buruk sekali ! apakah bapak tau, kita disini mengejar waktu untuk bangunan ini (dengan suara keras)”
” ia saya tahu tapi saya bisa mengusahakan nya untuk seketsa bangunan yang di barat (dengan perasaan resah gelisah)”
” baiklah tapi besok saya harus melihat sketsanya karena besok lusa saya harus melaporkannya kepada pemilik bangunan ini (dengan tegas)”
” Baiklah pak yasa usahakan !”
” ia saya permisi ”
” ia pak ”
pak ilham tak sengaja menguping pembicaraan kedua atasannya itu, dan langsung menghampiri pak Budi yang sedang pusing bagai mana dia bisa membuat sketsanya.
” permisi maaf pak ”
” ohh kamu, ini upah kamu untuk hari ini (dengan suara resah dan gelisah)”
” ia pak terimakasih pak, tapi pak bukannya saya tidak sopan tapi boleh say tahu bapak kenapa ya ? ”
” saya sedang memikirkan sketsa untuk bangunan di sebelah barat dan lagi tida ada yang membuatnya saya berusaha memikirkan jalan keluarnya ”
” ohh maaf kalau saya mengganggu bapak yang lagi sibuk ”
” oh tidak apa – apa ”
” saya permisi pak saya harus pulang ”
” ia ”
di perjalan pak ilham terbesit ide untuk membantu pak budi untuk membuat sketsanya dengan harapan bisa menambah uang yang sehari – hari di dapatkannya, dia langsung pulang dengan terburu – buru hingga ia lipa untuk melepas sepatunya.
dengan modal izasah SMP dan berbagai pengetahuan tentang menggambar dan dia juga pernah mendapatkan pengghargaan untuk karyanya.
dia langsung menyiapkan peralatan untuk menggambar sketsa yang di harapkannya itu, . . . . . 30 menit telah berlalu kemudian pak ilham dengan terburu – buru kembali ke pak budi untuk menyerahkan sketsa yang dibuatnya brharap mendapatkan upah lagi.
sampailah pak ilham di tempat pak budi berada dan langsung menghampirinya,
” pak permisi, bukannya saya sok tau tapi saya mau bantu bapak dengan gambar ini ( dengan percaya diri yang besar)
” (di lihat lah sketsa dari pak ilham )”
” pak apa ada yang salah dengan gambar saya ?”
” (pak budi tercengang dengan gambar yang dia buat ) ”
” pak . . . bapak budi . . . pak budi ”
” ia (terkesima)! ohh maaf tapi bleh saya ambil ini ?”
” bisa pak, kan tadi juga saya bilang saya mau bantu bapak ”
” terimakasih ya, bapak ilham telah membantu saya (gembira)”
” ia pak, sama – sama pak”
” baiklah, saya akan ke pusat untuk menyesahkan ini, sekali lagi saya mengucapkan terima kasih, saya pamit bapak ilham ”
” ia pak (sedikit kecewa)”
pak ilham pun sedikit kecewa karena dia tidak mendapatkan apa pun, pak ilham pulang dengan keluh kesah karena pemikirannya telah sia – sia.
2 tahun berlalu setelah kejadian itu pakilham masih bekerja di sana, dan alangkah terkejutnya pak ilham, melihat sketsa yang digambarnya tekah berdiri kokoh di sebelah utara sesuai rencana, tapi pada waktu itu dia tidak menyangka desainnya di pakai dan lagi pak ilham tidak tahu ada yag di bangun di sebelah barat kiranya itu adalah proyek setelah gedung ini selesai tapi itu berbeda dari pemikiran pak ilham,
gedung yang di buat pak ilham sudah selesai di buat dan juga sketsa nya pun telah berdiri menjadi sebuah bangunan kokoh dan arsistik.
hari di mana peresmian gedung itu pun datang, tempat itu ramai dengan sekejap memenuhi jalanan sekitar, orang yang memiliki gedubg itu pun datang dengan gagah melihat lihat bangunan yang ada di sekitarnya, dan ia pun sangant terkesan dengan bangunan yang dibuat oleh sketsa pak ilham danlangsug mengatakan kekagumannya ke pak ilham.
” pak ilham, bangunan yang and buat ini sangat lah bagus anda berbakat dalam membuat sketsa bangunan ”
” terimakasih pak, tapi yang membuat sketsa ini bukan saya ”
” lalu siapa ? bukannya waktu itu anda sendiri yang memperlihatkan gambar itu kepada saya ? ”
” orang itu adalah pekerja buruh saya, awal nya saya juga terkejut dengan sketsa yang dia buat dan alangkah senangnya saya telah di bantu olehnya ”
” ohhh, apakah saya bisa bertemu dengan pekerja itu ? ”
” dengan senang hati saya akan panggilkan ”
beberapa saat kemudian…
” pak permisi apakah saya di panggil kesini ?”
” ia benar pak, oh ia silakan duduk !, ini pak ilham ada yang mau bertemu bapak ”
” soal apa ya ? ”
” ini perkenalkan dia adalah yang memiliki gedung ini nama nya pak Rudi, beliau mau berbicara dengan bapak, saya permisi pak (keluarlah pak Budi)”
” ini pak ilham saya terkesan dengan bangunan yang anda buat di sebelah barat, bangunan itu sangan modern sekali ”
” iya pak saya juga tidak menyangka sketsa saya bisa jadi bangunan yang di sana ”
” dan apakah saya bisa di buatkan sketsa untuk saya, untuk bangunan rumah saya ”
” tapi pak …….”
” ohhhh, soal bayaran santai saja ! saya bayar bapak 15 juta untuk 5 sketsa bisa ? ”
” tapi pak …….”
” ohhh saya tambahkan jadi 20 juta ”
” sudah pak itu terlalu banyak !”
” gini aja saya kontrak saja bapak 2 thn ”
” bisa pak saya setuju (dengan sumringah)”
” nah gituh donk ”
” makasiah pak saya sangat berterimakahih sekali pak ”
1 tahun ke mudian pak ilham bepotosintesis menjadi seorang arsitek yang di segani karna rancangannya, tidak di pungkiri pak ilham dalam 1 tahun berhasil menggambar skersa hampir 50 rancangan yang di sebar ke berbagai kota, dan ia pun mendirikan sekolah khusus untuk para arsitek muda dengan harapan ada yang mengikuti jejaknya menjadi arsitek yang sukses.

Teman-temanku bilang aku bodoh. Guruku bilang aku anak yang tak bisa menerima pelajaran dengan cepat. Dan aku juga merasa begitu. Namun, hanya satu yang selalu memberiku semangat ketika aku hampir jatuh, ketika aku hampir putus asa. Ia adalah IBUku.
Bapak telah putus asa mendidikku. Sekarang dia tidak peduli bagaimana nasibku. Kami bukanlah orang yang tak mampu. Kami keluarga yang sangat sederhana, tidak kaya dan juga tidak miskin. Setiap malam ibu selalu menemaniku belajar. Walaupun terkadang dia tidak sabar mengajariku yang sulit menerima penjelasan darinya. Tapi ia tak pernah putus asa. Dia yang mencarikanku sekolah baru setiap aku tidak naik kelas. Aku memang anak yang bodoh. Kerena kebodohanku, aku tidak naik kelas berkali-kali dan aku juga pindah sekolah telah berkali-kali.
Kali ini, Ibu membawaku ke sebuah sekolah kecil di luar kota Surabaya. Aku diterima dengan baik di sana. Kulihat Ibuku berbincang-bincang dengan salah satu guru di sekolah ini. Ibu sangat gigih dan bersemangat untuk menyekolahkanku. Bagaimana bisa aku membalas jasa-jasanya.
“aku harus semangat! Aku harus sukses!” ucapku tegas namun dengan suara lirih. Ibu menghampiriku dengan langkah-langkah cepat. Aku tersenyum padanya dan dia juga tersenyum padaku.
“Dodi, ini sekolah barumu. Mulai besok kamu bisa belajar di sini.” Ucap Ibu sambil menatap kelas-kelas yang berisi siswa-siswi SMP. Aku mengikuti arah pandangannya. Seharusnya aku sudah menjadi anak SMA. Setelah puas menatap anak-anak yang sedang belajar itu, aku kembali beralih pada Ibu. “suka kan?” tanyanya padaku. Aku hanya membalasnya dengan anggukan. “ya udah, kita pulang dulu. Besok Ibu anterin kamu ke sini.” Aku mengekor di belakang Ibuku. Kutatap tubuhnya yang semakin mengecil. Atau karena aku semakin tinggi? Terkadang aku merasa Ibu selalu menganggapku seperti anak kecil. Selalu menemaniku belajar. Walaupun aku tahu, hal itu dilakukannya karena kebodohanku.
***
Keesokan harinya. Ibu membawa semua barang-barangku ke mobil. Aku bingung melihatnya. Namun, aku tak berani bertanya ketika kulihat Bapak menghampiriku dengan tatap tajam. “ngapain kamu masih berdiri di situ? Cepet bantu Ibumu!” bentaknya padaku.
Aku langsung melaksanakan perintah. Kuangkat semua barang-barangku dari kamar. Begitu selesai, aku langsung masuk mobil dengan seragam SMP melekat di tubuhku. “barang-barangku mau dibawa ke mana, Bu?” tanyaku hati-hati. Ibu menoleh dan hanya menjawabnya dengan senyuman.
Kami kembali datang ke sekolah yang kemaren kukunjungi bersama Ibu. Aku baru tahu kalau sekolah itu mempunyai sebuah nama. Taman Madia. Disinilah aku akan sekolah. Sekarang, dan semoga sampai seterusnya.
Aku menoleh menatap Ibu dan Bapak yang kembali sibuk menurunkan barang-barang dari mobil. Aku kembali bingung. Aku mulai khawatir dengan apa yang dilakukan ke dua orangtuaku. Apa mereka telah putus asa mendidikku? Dan mereka ingin aku pergi dari rumah.
Guru yang kemaren sempat berbincang-bincang dengan Ibuku menghampiriku. Dia mengajakku memasuki sebuah deretan kamar yang sepi. “asramanya masih sepi. Soalnya anak-anak banyak yang sekolah.” jelasnya. Kekhawatiranku semakin memenuhi kepalaku. Asrama? Aku sering mendengar kata asrama dari teman-teman sekolahku yang dulu. Mereka bilang tempatnya ramai dan kotor.
“Dodi.” Seketika aku menoleh. “kamu akan tinggal di sini. Sampai kamu lulus SMP.” Jelas Ibuku. Aku menatapnya tak percaya.
“aku nggak boleh pulang?”
“kamu boleh pulang kalau sudah liburan, Dodi.”
“tapi, Bu…”
“nggak ada tapi-tapian. Kamu harus belajar, jangan cuma bisa nyusahin orangtuamu.” Ucap Bapak tegas dan sedikit membentakku. Aku langsung menunduk patuh. Tak lama setelah itu, Bapak dan Ibu meninggalkanku dengan seorang guru yang menatap kepergian orangtuaku.
***
Malam ini aku belajar dengan teman-temanku. Tidak ada lagi Ibu yang menemaniku. Tidak ada lagi suara Ibu yang menjelaskan tentang pelajaran dan PR-PR yang harus kukerjakan. Kulirik semua teman-teman baruku yang sedang serius belajar.
“nilai matematikamu berapa?”
aku menatap anak laki-laki dengan rambut keriting.
“kamu dapet nilai bagus.”ucapnya pada salah satu temannya. “aku dapet nilai jelek.” Katanya lagi dengan wajah murung. Lalu tiba-tiba dia kembali tersenyum. “nggak apa-apa deh. Dengan nilai ini berarti aku harus berubah. Berubah biar aku belajar lebih giat dan lebih rajin lagi.”
Mendengar kata-katanya. Aku mencoba belajar lebih serius. Dan mencoba membaca pelajaran sejarah. Karena pelajaran yang paling kusukai adalah sejarah.
Keesokan harinya. Aku mencoba menyimak pelajaran yang diberikan oleh guru. Pertama pelajaran matematika. Pelajaran yang paling sulit bagiku. Walaupun sudah kucoba tapi aku tetap kesulitan untuk mencernanya. Kedua pelajaran biologi. Pelahjaran ini juga terasa sulit untuk kucerna. Tapi aku berjanji pada diriku sendiri. Kalau nanti malam aku belajar sungguh-sungguh, aku pasti bisa.
***
Hari berlalu begitu cepat. Bagaikan angin yang baru saja melintas didepanku. Kubuka mataku dengan satu helaan napas. Sudah satu bulan aku berada di asrama Taman Madia. Hari ini aku akan menghadapi ulangan sejarah. Aku sudah belajar hingga larut malam. Dan aku berharap nilaiku akan lebih dari lima puluh. Hal itu sudah cukup bagiku. Karena nilai-nilaiku dulu selalu di bwah lima puluh.
Dan ulangan telah dimulai. Aku mencoba mengerjakan sebisaku. Dan aku bersyukur, soal-soal yang kukerjakan sama dengan yang kupelajari tadi malam. Begitu selesai. Pak Ikhtar langsung menyuruh kami untuk menukar jawaban kami dengan teman yang berada di samping kami. Ternyata ini merupakan system ulangan dan penilaian Pak Ikhtar. Kami disuruh mengoreksi ulangan teman-teman kami. Begitu selesai, aku langsung menghampiri Ari yng mengeroksi ulanganku. “aku dapet berapa, Ar?” tanyaku sedikit antusias. “nilaimu bagus, Dod. Kamu dapet delapan puluh.”
Seketika kurampas kertas ulanganku yang berada dalam genggaman Ari. Kutatap nilaiku lekat-lekat. Aku tak percaya dengan nilai sejarahku. Aku berjanji akan kukabari kabar bagus ini pada Ibuku.
Pulang sekolah aku langsung berlari ke wartel. Begitu tersambung dan terdengar seseorang mengangkat. Aku langsung menyebut nama Ibu tanpa salam. “Ibu!” kataku setengah berteriak. “halo, Dodi.” Seketika aku terdiam. Ternyata Bapak yang mengangkat telepon. “Ibumu sakit. Kamu bisa pulang?” aku tercekat. Ibu sakit? Aku segera meletakkan gagang telepon dan lari meninggalkan wartel. Aku mulai khawatir dan entah kenapa mataku mulai terasa panas. Aku mencoba menenangkan diriku. Ibu cuma sakit Dodi! Batinku. Aku terus berlari mencari angkot. Yang aku pikirkan hanya satu. Hanya Ibu. Dialah sahabat yang selalu menyemangatiku. Menemaniku dalam keterpurukanku. Membantuku menyelesaikan masalah matematika setiap malam.
***
Rumahku sudah berada di depan mata. Aku semakin mengencangkan lariku dan begitu tiba di halaman. Aku langsung menerjang masuk ke dalam rumah lalu berlari ke kamar Ibuku. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana. Kasur Ibu tertata rapi seperti tak pernah ditempati. Aku langsung berlari ke belakang mencari Bapak. Namun aku juga tak menemukannya.
Tujuanku kali ini adalah rumah sakit. Aku kembali berlari ke rumah sakit yang dekat dengan rumahku. Setibanya di rumah sakit. Bagaikan orang gila aku mencari Ibu di setiap ruangan. Dan kutemukan Bapak sedang berdiri di ambang pintu, dia tak menyadari kedatanganku. Aku melangkah dengan cepat dan masuk tanpa bersalaman dengan Bapak.
Kutatap wajah Ibu yang terbaring lemah di atas kasur putih rumah sakit. Ibu semakin kurus dan semakin kecil. Kucium tangannya, kugenggam tangannya yang pucat. Aku tidak tahu Ibu menderita penyakit apa. Yang kupikirkan sekarang adalah keselamatan Ibu. “Ibu… aku punya kabar gembira buat Ibu.” Ucapku lirih dan dengan suara bergetar. Walaupun aku tahu Ibu tidak mendengarnya. Aku tetap ingin mengobrol dengannya. “aku dapet nilai di atas lima puluh, Bu. Aku dapet nilai delapan puluh. Aku sudah buktikan ke Ibu kalau semua kerja keras Ibu berhasil. Ibu berhasil ngajarin Dodi setiap malem.” Air mataku mulai mengalir.
“dodi…” kudengar suara Ibu yang lirih. Aku semakin erat menggenggam tangannya.
“ibumu tidak tidur. Dia hanya memejamkan matanya.” Tiba-tiba Bapak berkata. Aku menoleh sekilas padanya lalu kembali beralih pada Ibu. Ibu terus diam tidak mengeluarkan suara lagi. Sementara kekhawatiranku mulai menyusut.
Tiba-tiba genggaman tangan Ibu semakin melemah. Lima belas menit berlalu dan Ibu tetap diam tak bergerak dan juga tak mengeluarkan sepatah katapun. Aku kembali khawatir menatapnya. Aku mencoba merasakan detak jantungnya. Namun tak ada satu detak pun yang keluar. Aku mulai kebingungan. Bapak juga menyadari sesuatu perubahan. Aku berdiri tak tahan menatap wajah Ibu yang telah pergi. Kenapa begitu cepat? Sementara aku masih belum bisa membalasnya.
Aku mulai frustasi. Siapa yang akan mendukungku sekolah kalau bukan Ibu? Siapa yang akan menyemangatiku ketika aku kesusahan dalam belajar? Siapa yang akan memujiku pintar kalau bukan Ibu? Aku kembali mengingat ketika Ibu mengantarkanku sekolah. mencarikanku sekolah baru. Selalu menanyakan PR. Selalu mendengarkan keluh kesahku. Selalu mendengarkan keluh kesah guru tentang aku. Selalu memberiku motivasi. Selalu memarahiku kalau aku malas belajar. Dia adalah Ibu, sahabat sekaligus guruku di rumah. Tapi aku berjanji. Suatu saat nanti aku akan membuktikannya pada Ibu, bahwa semua itu tidak akan sia-sia untukku.

A.  Pendahuluan
Dalam dunia ini, manusia tak jarang mendapatkan hal yang tidak diinginkan dan menyakitkan. Berbagai probematika menghadang dalam diri setiap individu yang menghirup udara di atas bumi ini. Kadang permasalahan itu bukan hanya muncul dari dirinya sendiri, tetapi kadang juga muncul dari alam yang menaunginya. Banjir, gunung meletus, gempa bumi merupakan beberapa diantaranya. Semuanya berkombinasi sebagai hiasan dunia, sebab manusia hidup di dunia ini pada hakikatnya adalah untuk menghadapi permasalahan-permasalahan tesebut.
Dalam agama Budha, Sidharta Gautama dianggap sebagai manusia yang paling memiliki hikmat dan kebijaksanaan. Sebagai founder dari agama Budha tentunya ia menjadi panutan bagi umatnya. Namun, apabila kita mendalami ajarannya, maka akan kita temukan konsep penderitaan yang ia eksplorkan. Kebenaran-kebenaran-kebenaran tentang penderitaan tersebut terangkum dalam empat kebajikan kebenaran (four noble truth).
Dalam Islam sendiri konsep semacam itu banyak dibahas dalam salah satu cabang ilmu besar Islam, yakni mistisisme Islam (tasawuf). Didalamnya sufi (pelaku tasawuf) mengidentikkan dirinya dengan penekanan hawa nafsu di dunia ini. Hal ini identik dengan penderitaan di dunia. Mereka menganggap dunia hanyalah sebuah fatamorgana yang hanya menjadi tempat berteduh sementara. Hidup mereka hanya digunakan untuk Allah dan perilaku mereka penuh dengan kearifan, sehingga al-Suyuthi berkata “Seorang sufi adalah seseorang yang terus-menerus melakukan penyucian dalam berhubungan dengan Allah dan berbuat baik terhadap makhluk”.
Maka dalam tulisan ini akan sedikit dibicarakan mengenai konsep penderitaan Budha, serta analisis Tasawuf sebagai penjabaran salah satu trilogi agama, yakni ihsan dalam memaknainya.  Tentunya pembahasan yang dipakai tidak menggunakan pendekatan perbedaan teologis, tetapi memakai aspek spiritualitas masing-masing. Pembahasan pertama mengenai historisitas Budha untuk mengetahui jalan pikirannya. Kemudian dilanjutkan pemaparan konsep penderitaan yang dia ajarkan. Ketiga, konsep tersebut akan dianalis dengan perspektif tasawuf.

B.  Perjalanan Hidup Sidharta Gautama.
            Sidharta Gautama (hidup 560 S.M. s/d. 480 S.M.) merupakan seorang pangeran kerajaan, yang dibesarkan di dalam istana yang mewah di perbatasan Nepal. Dia adalah putra Raja Magandha bernama Suddodhana. Dalam kehidupannya di istana, Sidharta mempunyai istri yang bernama Gopa dan anak laki-laki yang mempunyai nama Rahula. Mereka hidup dalam kenikmatan istana yang serba mewah.
            Akan tetapi setelah itu, hatinya justru terpaut dengan realitas di luar. Ia menengok ke luar dari dirinya sendiri dan menemukan orang-orang yang menderita dan menemukan realita-realita penderitaan dalam berbagai bentuk. Tentunya hal tersebut membuatnya berempati, bersimpati dan kemudian mengambil aksi. Orang miskin yang terkapar di jalan, yang hari demi hari menjangkau kebutuhan hidup yang tak terjangkau, orang yang tertimpa penyakit yang tak kunjung sembuh, dan akhirnya orang-orang yang menangis meratapi kematian saudara mereka menghiasi pandangan Sidharta. Sementara orang kaya pun juga mengalami hal demikian, rasa tak puas, was-was, dan gelisah, kecewa dan murung karena dihantui berbagai macam penyakit setiap waktu dapat membawa ke liang lahat. Itulah sebagian penderitaan orang kaya.
Semuanya menyeruak di pikiran Sidharta dan menjadi polemik di dalamnya.
            Pangeran yang berumur 29 tahun itu akhirnya merenung. Ia sadar bahwa semua penderitaan adalah jalan bagi semua orang. Namun, bagaimanakah cara untuk melepaskan dari fakta ini. Ia masuk ke dalam pencarian akan kebenaran, suatu kebenaran yang bersifat filosofis sekaligus praktis. Sidharta muda lalu memutuskan untuk meninggalkan kerajaan dan ingin belajar akan kebenaran. Ryuho Okawa menyebutkan tiga alasan kuat mengapa Budha menyingkir dari kehidupan duniawi, yakni :
a.       Adanya suara bathin yang mendorong untuk melakukannya.
b.      Untuk mencari jawaban yang dicari Budha : empat penderitaan, derita kelahiran, derita masa lalu, derita sakit, dan derita kematian.
c.       Adanya keinginan yang kuat untuk sendiri dan larut dalam perenungan.
              Dia pergi dengan tanpa membawa uang, dengan meninggalkan keluarga, dia pergi dan belajar pada guru terkenal Alara dan Udakka, tetapi ia tidak merasakan kepuasan pada pengajaran mereka. Masa selanjutnya dari pengembaraannya dimulai dengan tindakan ekstrem (asketisme). Ia tinggal di hutan belantara, tubuhnya kurus kering karena makanan yang terbatas. Namun, pada akhirnya ia menyadari bahwa tindakan asketisme yang demikian adalah ilusi belaka, tidak membawa pada realisasi diri.
            Setelah tidak memperoleh hal yang diinginkan, Sidharta kemudian duduk di bawah pohon bodhi. Semalam suntuk ia merenungi nasibnya dan pagi harinya ia tersentak seraya menemukan kebenaran. Di sana, ia menemukan apa yang dicita-citakan, yakni ajaran tentang sebab akibat penderitaan (samsara) dan cara-cara mendapatkan kelepasan yang tersimpan dalam empat pokok pandangan filosofis (empat kebajikan kebenaran/kesunyaataan mulia). Maka setelah itu, dia mendapat julukan Budha atau orang yang mendapat penerangan.
            Pada waktu itu, umurnya menginjak 35 tahun. Sisa umurnya yang 45 tahun dipergunakan berkelana di sepanjang India utara. Ia menyebarkan paham filosofinya pada banyak orang dan akhirnya pengaruhnya pun cepat meluas. Saat ia wafat tahun 483 S.M. sudah ratusan ribu orang memeluk ajarannya. Kemudian ajarannya ditransmisikan secara oral dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ajaran-ajarannya dipelihara oleh murid-muridnya secara turun-temurun sampai kemudian ditulis dalam kitab-kitab yang memuat ajaran tersebut pada tahun 80 S.M. Kitab-kitab yang memuat ajaran Budha itu disebut Tripitaka yang artinya “tiga keranjang” atau “tiga kelompok”. Kitab ini terdiri dari Vinaya Pitaka, Sutta Pitaka, dan Abhidhamma Pitaka.

C.  Konsep Empat Kebajikan Kebenaran.
            Dari pencerahan yang dialami Budha tersebut munculah empat dasar kebenaran dalam agama Budha. Keempatnya bertemakan penderitaan. Penderitaan ini bisa dikatakan sebagai orientasi dasar Budhisme masa dan di tempat manapun.
            Adapun keempat ajaran tersebut adalah sebagai berikut :
1.    Penderitaan (Dukha).
            Dukka adalah penderitaan itu sendiri. Hidup di dunia ini penuh dengan hal-hal yang menyedihkan dan kesengsaraan, maka dapat disimpulkan bahwa hidup itu menderita. Bagi Budha, hidup adalah menderita, Kelahiran adalah penderitaan, umur tua adalah penderitaan, mati adalah penderitaan, disatukan dengan yang tidak dikasihi adalah penderitaan, tidak mencapai yang diinginkan adalah penderitaan. Sehingga secara singkat, kelima pelekatan pada dunia ini adalah penderitaan.
            Adapun dukha dalam konteks ajaran Budha itu mempunyai makna mendalam dan luas yang diartikan sebagai rasa sakit, penderitaan, dan lawannya adalah kebahagiaan atau sukha. Dukha mempunyai tiga pengertian, pertama adalah penderitaan biasa (dukha-dukha). Kedua, dukha sebagai akibat dari perubahan-perubahan (vippar madhuka). Suatu perasaan bahagia yang tidak kekal, cepat, atau lambat berubah, dan perbuatan itu menimbulkan dukha. Ketiga, dukha akibat ketergantungan lainnya (shankara dukha).\  \
            Sedangkan mengenai kesenangan, sebenarnya Budha sendiri tidak menyangsikan bahwa mungkin sekali manusia memperoleh kesenangan dalam hidup ini, dan kesennagan itu dapat dinikmati.  Namun, ada dua masalah. Pertama, seberapa jauhkah hidup itu dapat dinikmati. Kedua, pada tingkat manakah kenikamatan itu timbul jika memang ia ada dalam diri kita. Sang Budha berpendapat bahwa tingkat kenikmatan itu bersifat supersifisial yang mungkin memadai untuk hewan, tetapi bagi manusia kenikmatan itu akan membawa suatu kekosongan besar, kehampaan, dan rasa putus asa. Atas dasar itu, kesenangan dianggap sebagai kepedihan yang pulas.\ Dengan demikian, kesenangan pada dasarnya adalah sebuah penderitaan pula.
            Budha mengutip enam peristiwa hidup dimana keterplesetan hidup ini sangat nyata secara menyedihkan. Baik kaya maupun miskin, orang biasa maupun orang berbakat, semuanya mengalami keadaan ini :
a.       Pengalaman menyedihkan (trauma) di waktu lahir. Hal ini meliputi rentetan perasaan sakit, keluar, dan kaget.
b.      Patologi penyakit.
c.       Kemurungan yang timbul kerana menjadi tua.
d.      Ketakutan akan mati.
e.       Terikat pada sesuatu yang ingin kita hindari.
f.       Terpisah dari seseorang yang kita cintai.\ 

2.    Penyebab penderitaan (Samudaya).
            Budha mensinyalir bahwa “kehausan atau keinginan” (tanha) merupakan sumber segala  penderitaan dan kepedihan hidup. Dia adalah sumber nafsu yang tidak dapat menimbulkan rasa puas manusia selama hidupnya.\  Keinginan atau kehausan pada hakikatnya disebabkan oleh ketidaktahuan atau awidya. Ketidaktahuan ini adalah semacam ketidaktahuan yang kosmis, ketidaktahuan yang menjadikan orang dikaburkan pandanganya. Ketidaktahuan ini mengenai tabiat asasi alam semesta yang memiliki 3 ciri mencolok, yakni :
a.       Bahwa alam semesta penuh dengan penderitaan (dukha).
b.      Bahwa alam semesta adalah fana (anitya atau anicca).
c.       Bahwa tiada jiwa di dalam jiwa ini (anatman atau anatta). \  
            Keinginan merupakan hal yang tidak dapat dipuaskan secara tuntas. Keinginan ini bisa dikategorisasikan menjadi tiga :
a.       Keinginan untuk mendapatkan kesenangan sensual atau inderawi, semisal keinginan untuk memiliki benda.
b.      Keinginan untuk eksistensi dan menjadi sesuatu, misalnya ingin menjadi seseorang yang berkarakteristik tertentu atau ingin hidup kekal.
c.       Keinginan untuk non eksistensi, yakni kadang kala kita ingin untuk mati, dan kalau bisa memilih untuk tidak lahir di dunia ini.\   
   
3.    Pemadaman (nirodha).
            Sebagai manusia, tentunya kita berusaha untuk memenuhi keinginan kita. Namun, secara tidak langsung kita telah melekatkan diri pada penderitaan (dukha). Cara untuk menangulanginya adalah dengan melepaskan atau memadamkan keinginan tersebut dan membiarkannya berlalu.     
            Pemadaman kesengsaraan terjadi dengan penghapusan keinginan secara sempurna yakni dengan pembuangan keinginan itu, dengan penyangkalan terhadapnya, dengan pemisahannya dari dirinya, dan dengan tidak memberi tempat kepadanya.\Dengan kata lain, penghapusan keinginan adalah penghapusan penderitaan, dan penghapusan penderitaan adalah dengan nirwana, pemadaman api kerakusan, kebencian, dan angan-angan.\   
            Nirwana sendiri secara literal berarti pemadaman atau pendinginan. Sesuatu yang dipadamkan adalah keinginan, api nafsu, kebencian, dan sebagainya yang ditiadakan. Dalam kitab-kitab Budhis disebutkan bahwa di dalam nirwana segala  samsara ditindas secara sempurna, segala skandha dilarutkan, segala keinginan ditiadakan, demikian pula segala sebab, sehingga seseorang di didalam nirwana mengalami keadaan yang sangat damai. Di lain tempat dikatakan, bahwa nirwana adalah suatu kebahagiaan yang tanpa pengamatan, tanpa perasaan dengan sadar. Di situ ketidaktenangan hidup berakhir, sehingga ada kebahagiaan yang tentu. Juga disebutkan, bahwa nirwana adalah suatu kedaan yang jauh lebih baik dari pada segala kebahagiaan dunia.\

4.    Jalan mengakhiri Penderitaan (marga).
            Cara menghilangkan keinginan itu ada delapan jalan kebenaran (disebut dengan Astavidha). \ Sakyamuni Budha membentuk delapan poin tersebut untuk dapat memeriksa pikiran dan tindakan manusia.\ Delapan hal itu adalah :
a.       Pandangan yang benar (right view).
            Secara sederhana, pandangan yang benar adalah memandang dunia tanpa bias, bebas dari segala prasangka, memandang dunia dengan kearifan spiritual. Adapun menurut pengertian tradisional agama Budha, pandangan yang benar dimaknai sebagai cara melihat sesuatu berdasarkan Empat Kebenaran Kebajikan (Kebenaran Penderitaan, Kebenaran Sebab, Kebenaran Kehancuran, dan Kebenaran Jalan) serta menganalisis sesuatu berdasarkan sebab dan akibat\.    
b.      Pikiran yang benar (right intent).
            Pikiran yang benar ini adalah dengan mengkaji diri apakah sudah berpikir berdasarkan kebenaran Budha atau tidak. Sementara dalam ajaran tradisional Budha, hal tersebut bermakna jalan penyelesaian terbaik dalam rangka melanjutkan perjalanan menuju pencerahan dan selalu membuat keputusan-keputusan yang tepat dalam kehidupan sehari-hari.
c.       Perkataan yang benar (right speech).
            Perkataan yang benar dilakukan dalam berbagai macam bentuk, antara lain dengan menahan diri untuk tidak berkata untuk menyakiti orang lain, tidak berkata bohong, dan tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak berguna.   
d.      Tindakan yang benar (right action).
            Tindakan yang benar ditafsirkan sebagai cara bekerja yang benar, maka ada dua titik penting yang harus diperhatikan. Pertama, melihat pekerjaan kita sudah bertentangan dengan hati nurani atau tidak. Kedua, ketika melakukan pekerjaan kita bisa menjalin harmonis dengan orang lain atau tidak. Sementara dalam ajaran tradisional diartikan sebagai larangan melakukan tindak-tindak kejahatan, seperti membunuh, mencuri, dan tidak menghormati orang yang lebih tua.
e.       Kehidupan yang benar (right livelihood).
            Menurut ajaran tradisional Budha, kehidupan yang benar adalah dengan tidak melakukan tindak kejahatan atau memilih pekerjaan-pekerjaan yang berlawanan dengan ajaran kebenaran Budha, seperti mengajarkan materialisme, doa atau keyakinan yang menyimpang, dianggap sebagai tindakan yang akan merusak kehidupan yang benar.
f.       Usaha yang benar (right effort).
            Usaha yang benar memiliki makna bekerja keras berdasarkan jalan kebenaran Budha. Ada dua titik yang harus kita gunakan untuk melatih refleksi diri tentang jalan usaha yang benar ini. Pertama, memandang dunia ini sebagai tempat latihan jiwa. Kedua, untuk mengetahui apakah tingkat spiritualitas kita meningkat dan berkembang atau tidak.  
g.      Kesadaran yang benar (right mindfulness).
            Kesadaran yang benar berbeda dengan refleksi diri tentang jalan pikiran yang benar (right thought), sebagai cara mengontrol apa yang kita pikirkan dan memeriksa setiap pikiran-pikiran yang muncul dalam kepala. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa ia dianggap sebagai kontrol terhadap daya kehendak yang diarahkan pada tujuan-tujuan tertentu.
h.      Konsentrasi yang benar (right concentration).
            Konsentrasi yang benar merupakan puncak atau jalan terakhir dari delapan mulia, caranya adalah dengan bermeditasi. Hal ini terkait dengan tujuan tertinggi agama Budha karena agama pada dasarnya adalah disiplin konsentrasi spiritual.
            Secara singkat, kedelapan jalan kebenaran itu terdiri dari tiga dimensi :
a.       Kebijaksanaan (prajna), dimensi ini terdiri dari Pandangan yang benar (right view) dan Pikiran yang benar (right intent).
b.      Moralitas (sila), dimensi ini terdiri dari Perkataan yang benar (right speech), Tindakan yang benar (right action), dan Kehidupan yang benar (right livelihood).
c.       Disiplin mentalitas (samadhi), dimensi ini terdiri dari Usaha yang benar (right effort), Kesadaran yang benar (right mindfulness), dan Konsentrasi yang benar (right concentration).

D.  Analisis Tasawuf dalam ajaran Empat Kebajikan Kebenaran.
            Walaupun empat kebaikan kebenaran sebenarnya dianggap sebagai faham fiosofis Budha. Namun, menurut hemat penulis disamping memiliki sisi filosofis, ajaran tersebut juga mempunyai sisi spiritualitas tak kalah besar. Oleh sebab itu, tasawuf tentunya sangat representatif untuk melihat dan menerawang empat ajaran Budha tersebut. Berikut  analisis yang bisa dipaparkan penulis dalam beberapa konsep Budha itu:
1.      Konsep Penderitaan (Dukha).
            Budha menyimpulkan bahwa kehidupan merupakan suatu penderitaan. Semua yang terkait dengan dunia, kelahiran, mati dan lain-lain adalah penderitaan. Dalam pemikiran masyarakat umum, hal tersebut adalah sesuatu yang paradoks. Bagaimana tidak, kehidupan merupakan sebuah kebahagiaan yang dimiliki manusia. Mungkin inilah dasar perbedaan antara pemikiran Budha dengan manusia pada umumnya.  
            Dalam perjalanan spritualnya dalam mencari kebenaran, ia tidak menemukan kebenaran yang dicarinya lewat asketisme. Dia tidak puas dengan cara-cara rahib Hindu dalam menyikapi hidup. Oleh sebab itu, ia memilih jalan tengah (middle way) antara asketisme, yang ia anggap tidak ada gunanya dan kesenangan kehidupan dunia. Inilah yang menjadi penentu konsep empat kebajikan kebenarannya, terutama konsep dukha ini.
            Secara sufistik, -- menurut penulis-- Budha itu bisa dikategorikan sebagai sufi yang moderat. Tidak menyikapi hidup dengan asketik secara total, tetapi juga menggunakan keduniaan ala kadarnya. Ia tetap mengadakan kedekatan sosial pada orang lain. Inilah contoh sufi yang sesuai dengan pemahaman agama.
            Dalam konsep dukhanya, ia mencoba mendeskripsikan penderitaan yang ia maksud bukanlah sebagai tindakan asketis total, tetapi lebih memandang dunia sebagai cobaan dan deritanya harus dihadapi. Hal ini tentunya juga mempunyai banyak persamaan dengan para pelaku tasawuf (sufi) dalam memandang hakikat hidup. Mereka melihat kehidupan sebagai bentuk cobaan yang manusia harus bisa menanggulanginya. Namun, pandangan terhadap kehidupan niscaya berbeda antara sufi dan Budha
             Sufi bukanlah orang yang menganggap dunia ini sebagai penderitaan. Dunia ini adalah ciptaan Allah yang tidak pantas dianggap sebagai tempat penderitaan. Ia hanyalah sebagai lintasan pendek untuk mencapai kebahagian akhirat. Perbedaan tersebut menurut penulis bersumber dari ajaran Budha itu sendiri yang hanya berkonstruksi filosofis, tanpa disertai akar teologis. Tentunya hal ini berbeda dengan sufi yang memasukkan unsur-unsur teologis dalam penerapan tasawuf mereka.              
            Para sufi niscaya memiliki perspektif berbeda dalam memandang dunia. Dengan memakai kaca mata terbalik itulah metode mereka. Kelahiran umpama, dia bukan hanya menjadi rahmat sebagaimana dipahami masyarakat awam, akan tetapi juga menjadi cobaan. Apakah sang hamba masih bisa beribadah atau tidak pada Tuhan setelah itu. Begitu pula kematian, bukan sebatas sebagai cobaan sebagaimana dimengerti komunitas awam, tetapi juga sebagai rahmat karena setelah itu mereka akan menghadap pada Tuhan yang dinanti-nantikannya. 

2.      Konsep Penyebab penderitaan (Samudaya).
            Dalam konsep ini, nampaknya Budha lebih menekankan agar manusia menyadari bahwa keinginan atau hawa nafsu merupakan sebab dari penderitaan yang dialami manusia.  Dari itu Budha mengisyaratkan penekanan secara komprehensif untuk meleburkan keinginan.    
            Dalam persektif sufi pada khususnya dan kalangan muslim pada umumnya keinginan atau nafsu memang menjadi musuh utama. Ia niscaya menjadi musuh yang mencelakakan dan harus diwaspadai. Nafsu menimbulkan petaka yang amat besar dan sukar dihindari. Ulama menyebut dua macam sebab mengapa manusia harus waspada pada hawa nafsu sebagaimana dikutip Al-Ghazali, yaitu:
a.       Karena hawa nafsu merupakan musuh dari dalam.
b.      Karena hawa nafsu adalah musuh yang disukai.
            Sidharta pada hal ini menyebutnya sebagai penyebab penderitaan, sebab memang pada dasarnya keinginan seseorang menimbulkan kerusakan. Hal ini juga nampaknya diiyakan oleh banyak ahli tasawuf, sebab memang ittibā’ul hawā’ adalah salah satu perbuatan tercela. Sehingga Ali bin Abi Thalib berkata “Sesungguhnya sesuatu yang paling menakutkan adalah ittibā’ul hawā’  dan tūl amal.  Ittibā’ul hawā’  dapat mencegah dari perbuatan haq dan tūl amal dapat melupakan akhirat, kecuali bila dunia dipindah di belakang orang itu dan akhirat ditaruh didepan orang tersebut”
            Tidak semua keinginan bisa menyerang manusia. Tergantung manusia tersebut bisa menghadapinya atau tidak. Apakah nafsu itu menguasainya ataukah ia yang menguasai nafsu. Dalam tasawuf terdapat tiga tingkatan jiwa (nafs) yang dimiliki manusia, ketiga jiwa itu adalah :
a.       Nafs Ammārah, yakni suatu tingkatan rohani yang masih cenderung mengikuti panggilan hawa nafsu. Ia masih bisa terpengaruh godaan syaitan. Nafsu inilah yang dimiliki mayoritas orang.
b.      Nafs Lawwāmah, yakni suatu tingkatan rohani yang sudah lebih tinggi karena kebiasan mawas diri, mengkoreksi kealpaan diri, meneliti diri sendiri, dan memeriksa dengan cermat serta selalu membuat perhitungan timbal balik antara kesalahan dirinya dibandingkan dengan amal salehnya. Ia merasa bersuka cita dan menyesal dan menyesal dalam keburukannya dan sebaliknya merasa senang dan tenang apabila ia berbuat kebaikan.
c.       Nafs Mutmainnah, yakni jiwa yang tenang tentram dalam kebaikan. Apabila seseorang sudah demikian terlatih dengan tingkat kerohanian yang kedua di atas, suka menegor diri sendiri apabila terpeleset dalam kemungkaran, akhirnya dapatlah berkenalan mengerjakan kebaikan dan selalu terjauh dari keburukan karena kewaspadaanya, maka boleh dikatakan dia telah mencapai tempat kerohanian yang luhur.
            Tak dapat dipungkiri bahwa konsep nafsu sebagai pembawa malapetaka memang tidak ada perbedaan pada masing-masing. Baik dari Budha maupun sufi sama-sama menyimpukan nafsu sebagai sumber penderitaan. Dalam hal ini, Sidharta memang memiliki sisi spiritual ataupun filosofis yang cukup excellent dalam menyikapinya. Pandangan tersebut terimplementasikan dalam salah satu ajarannya ini.  
3.      Pemadaman (nirodha).
            Tahapan ini Budha sepertinya mendorong manusia agar menghentikan laju penderitaan manusia dengan cara pemadaman hawa nafsunya tersebut. Baik dengan pembuangan keinginan itu, dengan penyangkalan terhadapnya, dengan pemisahannya dari dirinya, dan dengan tidak memberi tempat kepadanya.  
            Nampaknya metode Budha tersebut, yakni nirwana hampir mirip dengan cara sufi menghilangkan nafsunya. Banyak kaum sufi mengekang hasratnya dari keduniaan dan pemadaman nafsu. Salah satu sufi, Abu Ya’qub al-Susi mendefinisikan sufi sebagai orang yang tidak merasa sukar dengan hal-hal yang terjadi pada dirinya dan tidak mengikuti hawa nafsunya.            Dalam dunia sufi, berbagai macam cara dilakukan untuk meredam nafsu yang menyeruak di badan. Ulama menyebutkan cara untuk menghilangkan nafsu ada tiga macam sebagaimana dikutip al-Ghazali, yakni:
a.       Mengekang keinginan, sebab binatang binal akan lemah akan lemah bila dikurangi makannya.
b.      Dibebani dengan beribadah, sebab keledai pun jika ditambah bebannya dan dikurangi makannya akan tunduk dan menurut.
c.       Berdoa dan memohon petolongan Allah.
            Lepas dari tatanan teologis, metode al-Ghazali tersebut sebenarnya hampir sama dengan cara Budha memadamkan keinginannya. Walaupun terdapat sedikit perbedaan yang diakibatkan perbedaan teologi. Hal itu dapat dimaklumi, sebab Budhisme memang pada dasarnya cuma sekedar faham fiosofis dan dianggap tidak merujuk pada suatu agama.  Namun, secara kerohanian mereka punya metode yang sama, yakni mengekang dan membuang nafsu yang tidak ada manfaatnya tersebut.
            Dalam organisasi sufisme, yakni thariqah sebenarnya sudah dilaksanakan berbagai macam bentuk peleburan hawa nafsu serta memadamkan pikiran keduniaan. Ada beberapa bentuk isi dan sistem thariqah yang harus dilakukan sālik (orang yang suluk), yakni:
a.       Dzikir, yakni duduk tafakur di kamar gelap seorang diri dalam keadaan tidak boleh kenyang. Dzikir dibagi menjadi tiga tingkat : Dzikir lisan, dzikir qalbu, dan dzikir sirr (rahasia).
b.      Beratib, yakni mengucapkan dzikir “Lā ilāha illallāh” dengan gerak-gerak badan tertentu.
c.       Bemuzik, membaca wirid-wirid, syair-syair dengan iringan rebana.
d.      Menari, dilakukan oleh ahli thariqat dalam tata cara khusus, berupa tarian dzikir.
e.       Bernafas, mengatur nafas seraya berdzikir. Berusaha memperlambat nafas, tetapi memperbanyak dzikir.
f.       Bersenam, yakni mengucapkan tahlil sambil berdiri dan bergerak secara literatur sesuai dengan yang ditentukan oleh masing-masing thariqah. 
            Sementara dalam paradigma sufisme lainnya terdapat istilah fanā’ dan baqā’ untuk peleburan nafsu. Fanā’ disebutkan sebagai hilangnya semua keinginan hawa nafsu seseorang, tidak ada pamrih (kepentingan) dari segala perbuatan manusia, sehingga ia kehilangan segala perasaannya dan dapat membedakan sesuatu dengan sadar, dan dia telah menghilangkan semua kepentingan dalam ia berbuat sesuatu. Selanjutanya akan muncul sifat baqā’, yaitu hilangnya segala sesuatu pada dirinya, dan menetapkan (mengekalkan) sesuatu bagi Allah pada dirinya.
   
4.      Jalan mengakhiri Penderitaan (marga).
            Dalam jenjang yang keempat ini Budha menyebutkan delapan tingkatan untuk mengakhiri  penderitaan. Dari kedelapan  pembagian  ini akan diperoleh kebahagiaan.
Puncak dari kedelapan langkah itu adalah bermeditasi, sehingga akan diperoleh ketentraman hati.  Dalam hal ini, kita harus mengakui Budha sebagai orang yang sangat bijak untuk mencetuskan konsep pencerahannya ini. Apa yang diajarkan Budha pada murid-muridnya tersebut memang sangat mengandung sisi spiritual maupun sosial yang baik. Sebuah pemahaman yang tentunya bisa membangun jasmani maupun rohani manusia ke arah kebaikan.
            Meditasi, sebagaimana yang dilakukan Budha tersebut tentunya juga dilakukan oleh para ahli Tasawuf untuk mendekatkan diri pada rabbnya. Sehingga dalam praktek sufi sering disebut sebagai proses uzlah, yakni pergi meninggalkan keramaian duniawi ke tempat yang sepi dari hiruk-pikuk manusia. Dari hal itu akan didapatkan kemajuan spiritual, ketenangan batin, serta menghilangkan ketergantungan pada dunia. Hal tersebut kiranya pula yang menjadi tujuan meditasi agama Budha.  
            Delapan ajaran Budha tersebut bisa dibilang kebanyakan sudah diaplikasikan oleh para ahli tasawuf, sebab banyak dari hal itu sinergis dengan asas-asas dalam tasawuf. Dari mulai pandangan yang benar sampai konsentrasi yang benar bertebar benih-benih ketasawufan, sehingga memang delapan langkah itu sejalan dengan inti ajaran tasawuf.  Selain itu, delapan jalan itu juga mengandung sisi filosofis dan sosial yang tak kalah baiknya.    
            Sementara dalam tasawuf sendiri sebenarnya ada konsep tentang tingkatan-tingkatan untuk mencapai derajat tinggi di hadapan Allah, yakni maqāmāt. Maqāmāt adalah jalan panjang yang harus ditempuh seorang sufi yang berisi stasiun-stasiun. Selain itu, terdapat pula ahwāl sebagai keadaan mental, seperti perasaan sedih, perasaan takut, dan sebagainya. Ahwāl berbeda dengan maqāmāt, ia bukan diperoleh atas usaha manusia, tetapi diperdapat sebagai anugerah dan rahmat Tuhan. Ahwāl bersifat sementara, datang dan pergi; datang dan pergi bagi seorang sufi dalam perjalanannya mencari Tuhan.
            Para ahli Tasawuf menyebutkan tingkatan-tingkatan maqāmāt secara berbeda-beda.  Abu Bakar Muhammad al-Kalabazi dalam bukunya al-Ta’āruf li Madzhab ahl-Tasawwuf misalnya menyebutkan sebagai berikut :
a.       Taubat.
b.      Zuhud.  
c.       Sabar.
d.      Kefakiran.
e.       Kerendahan hati.
f.       Taqwa.
g.      Tawakkal.
h.      Ridlo.
i.        Cinta.
j.        Makrifat.
Sementara Abu Nasr al-Sarraj al-Thusi dalam al-Lummā’ menyebutkan :
a.       Tobat.
b.      Wara’.
c.       Zuhud.
d.      Kefakiran.
e.       Sabar.
f.       Tawakal.
g.      Ridlo.
Abu Hamid al-Ghazali mengatakan dalam Ihyā’ Ulumuddin sebagai berikut
a.       Tobat.
b.      Sabar.
c.       Kefakiran.
d.      Zuhud.
e.       Tawakkal.
f.       Cinta.
g.      Makrifat.
h.      Kerelaan.
            Adapun Ahwāl secara biasa adalah takut, rendah hati, patuh, ikhlas, rasa berteman, gembira hati, dan syukur. Dari hal tersebut di atas, jalan yang dilalui seorang sufi tidaklah licin dan dapat ditempuh dengan mudah. Jalan itu sulit, dan untuk pindah dari satu  stasiun ke stasiun yang lain tentunya menghendaki usaha yang berat dan waktu yang relatif lama. Hal itu juga kiranya yang menimpa Budha untuk sampai pada tingkatan yang tertinggi asthavida.

E.  PENUTUP
            Pada dasarnya seluruh agama mengajarkan kebaikan, yang berbeda hanyalah sistem teologi yang dimiliki. Antara satu dengan yang lain menyuruh setiap umatnya melakukan kebaikan, baik secara vertikal maupun horizontal. Tak dapat dipungkiri, munculnya agama dapat dikatakan sebagai “obat” atas “penyakit” moral yang dimiliki masing-masing umat. 
            Dalam ajaran Sidharta, rasa spiritualitasnya sebenarnya pantas diacungi jempol. Ajarannya banyak menekankan penghapusan hawa nafsu serta dapat membangun sisi rohani manusia. Pengajarannya bagi pemeluknya dianggap sebagai bentuk mutiara hikmah yang harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Wallāhu a’lam bi al-Sawāb